Enam warga mengaku menjadi korban pemotongan dana PKH datang ke Komisi III DPRD Lambar, Selasa (29/10). Foto: ist for JPNews

JPNews - Indikasi Penyunatan dana bantuan sosial (Bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) di Lampung Barat (Lambar) muncul kepermukaan.

Itu terungkap setelah sejumlah warga Pekon Luas, Batuketulis, melapor ke Komisi III DPRD, Selasa (29/10). Penyunatan bansos itu diduga dilakukan oleh MG oknum pendamping PKH di wilayah tersebut. 

Koordinator Kabupaten (Korkab) PKH Lambar Arsyah saat dihubungi JPNews di Liwa, menyebut perbuatan itu murni dilakukan oleh oknum.

Pihaknya tak ingin PKH Lambar tercoreng oleh perbuatan tak terpuji oknum.

Pihaknya telah melakukan beberapa langkah terkait indikasi itu.

Ia juga mengaku pihaknya telah dipanggil dan diperika oleh pihak Kejari Lambar berkaitan dengan dugaan pemotongan Bansos PKH di Pekon Luas tersebut.

”Kami menghormati proses hukum, dan proses di kami sudah berjalan, yang bersangkutan sudah kami berikan surat peringatan (SP) 1, dan persiapan untuk SP 2 dan tinggal diproses oleh pihak dinas,” kata dia.

Itikat baik dari MG telah telah ada, dimana bansos PKH yang dilakukan pemotongan akan dikembalikan ke penerima, dan itu juga sesuai dengan arahan dari pihak Kejari Lambar.

”Berkaitan dengan masalah ini, kami meminta pertimbangan pusat yang tentunya atas hasil disini, dan proses kami tetap lanjut, karena itu menyimpang, sehingga kemungkinan bear yang bersnagkutan dimutasikan ke tempat lain, namun dengan catatan tidak melakukan hal-hal menyimpang,” imbuhnya. 

Diketahui, enam warga mengaku menjadi korban pemotongan dana PKH itu datang ke Komisi III DPRD  Lambar dan diterima langsung oleh  Wakil Ketua  Komisi III Tri Budi Wahyuni, didampingi Sekretaris Nopiadi bersama sejumlah anggota, dengan membawa sejumlah bukti pendukung berupa struk penarikan dan bukti saldo masuk dari rekening  masing–masing. 

Ikwin, suami dari Suneta yang menjadi korban mengungkapkan pemotongan tersebut terjadi tahun anggaran 2019, untuk pencairan tahap IV yang seharusnya diterima sebesar Rp1520.850,- namun hanya dicairkan oleh oknum pendamping sebesar Rp1050.000,-  itupun mengundang pertanyaan mengingat struk  bukti  saldo masuk ke rekening tertanggal 8 Oktober 2018, karena penasaran ia melakukan pengecakan  saldo dan mendapati hanya tersisa sebesar Rp45.850, pengecekan dilakukan tanggal 9 Oktober 2019.

Sementara itu, Yurdalina salah satu korban yang diwakili suaminya Tamzir mengaku  mengalami pemotongan paling besar yakni mencapai Rp775.000.
(dri/JPN)

Komentar

Ekonomi Lainnya