TOP 0 News Indepth

Syafruddin Prawiranegara dan Assaat. Foto: Istimewa

JPNews - Sepanjang perjalanan Indonesia, tercatat ada dua nama yang pernah menjabat presiden di republik ini, yakni Syafruddin Prawiranegara dan Assaat.
 
 
Siapakah dua tokoh yang seakan terlupakaan itu? Berikut ulasannya:
 
Syafruddin Prawiranegara
 
Syafruddin diberi mandat sebagai presiden oleh Soekarno saat Belanda melakukan agresi militer kedua pada 1948. 
Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap kemudian diasingkan Belanda ke Pulau Bangka, 1948.
 
Nama Syafrudin  tidak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Padahal, jasanya mendirikan Indonesia sebagai negara berdaulat sungguh besar.
 
Salah satu pejuang kemerdekaan itu ditugaskan Soekarno dan Hatta untuk membentuk Pemerintahan Darurat RI (PDRI).
 
Pria kelahiran Serang, Banten, 28 Februari 1911 itu melanjutkan pemerintahan, agar tak terjadi kekosongan kekuasaan. Tongkat estafet kepemimpinan kemudian diserahkan Bung Krno kepada Syafruddin melalui mandat yang tidak pernah diterimanya.
 
Saat itu Soekarno - Hatta mengirimkan telegram berbunyi: “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah memulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. 
 
Set selanjutnya, kata Soekarno lagi, jika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan untuk Pak Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membuat Pemerintahan Darurat di Sumatra.”
 
Namun saat itu telegram itu tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil persetujuan yang senada.
 
Syafruddin yang sedang berada di Bukit Tinggi berinisiatif mengambil alih kepemimpinan negara. Pada 19 Desember 1948, Syafruddin bersama Gubernur Sumatera pada waktu itu, TM Hasan, memutuskan untuk membentuk pemerintahan darurat demi menyelamatkan Indonesia, yang pada saat itu dalam kondisi bahaya.
 
Atas usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Delapan bulan berselang yakni pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.
 
Assaat
 
Tokoh ini pernah menduduki kursi sebagai Presiden Indonesia selama 9 bulan, yakni dari 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950.
 
Assaat diamanatkan menjadi Acting (Pelaksana Tugas) Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta hingga 15 Agustus 1950 setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949.
 
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda mengirimkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). 
 
RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. 
 
Karena Soekarno dan Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan Republik Indonesia.
 
Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. 
 
Dengan mengakui RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak seperti Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai sekarang.
 
(bbs/JPN)

 

Komentar

News Indepth Lainnya