JPNews - Untuk kali kedua nelayan di pesisir pantai utara Karawang digegerkan dengan penemuan lumba-lumba mati. Sebagian nelayan menduga jika matinya kedua lumba-lumba ini akibat tumpahan minyak Pertamina yang mencemari laut utara Karawang.

Diketahui, seekor lumba-lumba ditemukan mati pada pertengahan Agustus 2019. Bangkai lumba-lumba ini ditemukan di Muara Sungai Cilebar, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar oleh nelayan yang hendak mencari ikan.

Sementara lumba-lumba kedua ditemukan mati pada 5 September 2019 di Pantai Pelangi, Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes. Penemuan lumba-lumba mati ini kedua ini terkubur pasir di Pantai Pelangi yang dipenuhi tumpahan minyak mentah Pertamina.

Penemuan lumba-lumba mati ini sudah dilaporkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk diverifikasi jenis dan penyebab kematiannya. Karena sejak adanya insiden kebocoran sumur migas YY-1 Pertamina, sudah dua lumba-lumba ditemukan mati.

Penemuan bangkai lumba-lumba tersebut langsung ditindaklanjuti Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tindak lanjut itu berupa pengambilan sampel bangkai lumba-lumba yang diduga mati karena tumpahan minyak.

"Dugaan sementara, lumba-lumba itu mati saat mengambil udara ke permukaan, kemudian menghirup minyak," ujar Deden Solihin, Pelaksana Satker DKI Jakarta Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serang.

Deden mengatakan, pengambilan sampel bangkai lumba-lumba berdasarkan laporan dan perintah langsung dari Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selama tumpahan minyak menggenangi pantai Karawang, mereka telah mengambil dua sampel bangkai lumba-lumba. Pertama, kata dia, bangkai lumba-lumba di Desa Pusakajaya Utara, pada 17 Agustus lalu.

"Kondisi bangkai lumba-lumba yang ditemukan berikutnya sudah kode 5, yakni komposit rusak. Bangkai itu hanya tinggal rangka dan sisa daging. Kami tadi mengambil kulit, daging, dan tulang," katanya.

Loka Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serang, kata Deden, akan melakukan uji DNA, histologi, logam berat, dan hidrokarbon. Untuk keperluan tersebut, dibutuhkan waktu sekira satu hingga dua pekan guna mendapat hasil uji laboratorium bangkai lumba-lumba.

Dari hasil pengamatan sementara, Deden menduga bangkai lumba-lumba itu merupakan jenis hidung botol. (Fan)

Komentar

Jabar Lainnya