JPNews - Sekitar 120.000 jamaah Haji Indonesia atau 57 persen dari total jamaah telah memutuskan untuk mengambil nafar awal.

Jamaah haji tadi berangkat dari Mina menuju Jamarat pada sepertiga malam dan sebagian lagi berjalan pada waktu menjelang waktu adzan salat shubuh. Mereka melakukan tiga lontaran terakhir sebagai Nafar Awal.

Selanjutnya, pada pagi ini, Selasa 13 Agustus 2019 atau 12 Dzulhijah 1440 H, jamaah diangkut menggunakan bis untuk kembali ke hotel tempat mereka menetap di Makkah. 

Sehingga diperkirakan pada 12 Dzulhijjah saat ini jamaah haji yang masih mabit di Mina sekitar 92.000 Jemaah.

Demikian data yang didapat dari pantauan yang dilakukan oleh TKHD/TKHI Provinsi Lampung Hi. Rozy Alfian di Mina.

Sama dengan maktab lainnya pada maktab-maktab Indonesia, mereka dilakukan proses pengangkutan.

Meski proses berjalan lancar, hanya saja jamaah harus antre menunggu bis. Dalam antrean, banyak jamaah yang komplain karena harus diberangkatkan pagi.

Mereka menganggap maktab terkesan ingin mengambil mudahnya saja tanpa memikirkan nasib jamaah yang melontar di waktu tidak sah, terlebih lagi banyak jamaah yang tidak paham sehingga mereka melontar sebelum Azan Subuh.

“Pergerakan jamaah nafar awal dimulai tadi jam 8 pagi diangkut secara bertahap menuju ke Makkah di hotel yang sama tempat mereka menetap sebelum ke Mina,” kata Rozy, Selasa (13/8).

Kekecewaan sebagian jamaah dengan kebijakan maktab dan pemerintah yang harus mengirimkan bis pagi hari ini bukan tidak mendasar. 

Karena keyakinan mereka adalah keyakinan kesepakatan Jumhur Ulama 4 Majhab, bahwa lontaran yang sah adalah setelah Azan Dzuhur.

Dan lontaran sebelum Azan Subuh adalah tidak sah dan harus membayar dam (sebelum Azan subuh terhitung tanggal sebelumnya). 

Sehingga hampir separuh jemaah melakukan Nafar Tsani mendadak disebabkan takut terkena dam karena harus melontar pada waktu sebelum shubuh takut tertinggal bis.

Seperti yang disampaikan oleh Sopian, Koordinator Karom KBIH Mandiri Muhammadiyah. Bahwa lontaran sebelum Azan Subuh tanpa Udzur Syar’i tidak sah.

Bahkan, untuk mengejar lontaran setelah Dhuhur KBIH Mandiri Muhammadiyah berencana berjalan kaki tidak menggunakan bis pagi hari.

"Rasulullah dan sahabat pada Haji Wada melakukan lontaran di 3 hari Tasrik pada waktu matahari tergelincir setelah melontar Beliau baru Salat Dhuhur,” ujar Sopian.

Meski Murokib, pembimbing KBIH dari Lampung Tengah, yang beserta jamaahnya melakukan nafar awal, namun dia juga tetap mempermasalahkan lontaran di luar waktunya. 

Ia mengingatkan agar jamaahnya melontar sesudah Azan Subuh.

“Kita jalan sebelum Subuh, tapi ingat melontarnya nanti setelah selesai azan. Kalau sebelum azan, itu berarti lontaran untuk hari sebelumnya dan tidak sah, harus bayar dam,” terangnya.

Perbedaan nafar awal dan nafar tsani terletak pada lamanya melontar jumrah dan mabit di Mina. Untuk nafar awal, jemaah hanya melontar pada tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijah, sementara nafar tsani pada 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijah.

Syaratnya, untuk nafar awal di antaranya sudah harus meninggalkan Mina sebelum waktu magrib pada 12 Dzulhijah. Untuk pergerakan ke Makkah maktab menggunakan bus naqobah seperti saat pendorongan dari Mekah ke Arafah dengan jumlah 21 bus tiap maktab. (roz/JPN)

Komentar

Dunia Lainnya