foto: istimewa for JPNews

JPNews - Kabar tak sedap menerpa Danau Toba, di Sumatera Utara (Sumut).

Beberapa pihak menyebut jika danau terluas di tanah air itu bak toilet raksasa, tempat penampungan kotoran.

Hal itu terungkap saat Komisi D DPRD Sumatera Utara (Sumut) bersama Bupati Karo Terkelin Brahmana, Kepala Bappeda Ir Nasib Sianturi, Msi dan Plt PUPR Paksa Tarigan, ST, Walhi Sumut Dana Tarigan, Aliansi Peduli HBB (horas Tano Batak) Lamsiang Sitompul beraudensi ke Kementerian Lingkungan Hidup, Jumat (9/8) pukul 09.00 WIB di ruang Manggala Wanabakti, Jakarta.

Walhi Sumut, Dana Tarigan, mengatakan jika sebelumnya Danau Toba adalah ikon parawisata.

Namun kini ikon danau tersohor itu disebutnya "Toilet Raksasa".
"Ini saya katakan karena pencemaran kawasan Danau Toba sudah sangat parah, rusaknya dan menakutkan. Bayangkan, kotoran babi, kotoran manusia, kotoran ikan, limbah perhotelan semuanya di buang ke Danau Toba," kecamnya.

Dirinya mengaku terheran
dengan perhotelan, budidaya keramba jaring apung (KJA) dari perusahaan dan masyarakat  tidak mematuhi Pergub tahun 2017.

"Ini warning, air danau Toba sekarang sudah tidak dapat dimanfaatkan untuk  dikonsumsi sebagai air minum," tambahnya.

Kecaman serupa jufa disampaikan Aliansi peduli Horas Bangso Batak (HBB) Lamsiang Sitompul. Dia mengecam terjadinya  pencemaran di Danau Toba.

"Itu merupakan kerusakan sangat parah," ujarnya.

Lamsiang membenarkan fakta di lapangan terjadi pencemaran akibat faktor kotoran babi, kotoran manusia, kotoran ikan dari budidaya KJA ditambah limbah perhotelan yang tidak memiliki izin.

"Sesuai hasil riset penelitian lingkungan hidup Provinsi Sumut tahun 2005-2012 menyatakan kawasan Danau Toba, kategori tercemar. Nah ini yang kita banggakan di Danau Toba, saya katakan tidak," tandasnya.

"Untuk itu sesuai instruksi Presiden Jokowi kami HBB meminta tidak ada alasan KLH tidak setuju, harus setuju zero keramba," tegas Lamsiang.

Pada kesempatan yang sama komisi D DPRD Sumut secara bergantian juga menyuarakan Danau Toba tercemar.

Fahrijal Nasution menyebutkan bahwa Danau Toba adalah ikon yang menakutkan.

Burhanuddin Siregar mengatakan Danau Toba bukan ikon destinasi  dunia.

Layari Sinukaban menyuarakan 
Danau Toba Harus zero KJA. Dan Leonard Surungan Samosir mengakatan, Danau Toba sarang kotoran rentan penyakit. 

Di lain pihak, Kadis Lingkungan Hidup Sumut, Binsar Situmorang, mengakui sangat sulit menertibkan zero KJA.

"Utamanya oleh perusahaan perusahaan yang belum menutup usahanya yang dianggap mencemari Danau Toba, sebab mereka tahu aturan hukum," ujarnya.

Sementara Bupati Karo, Terkelin Brahmana membantah dengan tegas.

"KJA di Tongging dan maraknya isu kotoran babi masuk ke Danau Toba, khusus Karo, itu kita katakan, tidak ada," ujar Bupati Terkelin.

(rek/JPN)

Komentar

Nusantara Lainnya