TOP 0 Hiburan



Oleh: Fathurrohman
Universitas Trunojoyo Madura
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia


Novel yang akan saya analisis adalah Layla Majnun karya Syaikh Nizami. 

Novel ini merupakan novel sastra yang berhasil memadukan tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa.

Terpilihnya novel ini karena saya sendiri secara pribadi menyukai jalan cerita dari novel tersebut. novel ini unik karena ini bukan lah sastra modern yang tampaknya di baca skimming bisa kita pahami, membutuhkan suatu kesabaran untuh memahami gaya klasik dalam novel ini. 

Tidak hanya gaya bahasanya, tapi cobalah kita resapi  tiap-tiap kalimat dan  kata per kata tiap halaman. Anda akan megerti, kenapa karya ini tetap abadi selama berabad-abad.

Sastra timur tengah memang unggul dalam penggunaan diksi, prosa, dan majasnya sehingga bententuk kisah tragedi yang menyedihkan dan tetap anggun untuk dinikmati.

Kisah cintah Qays dan Laila diceritakan dari mulut ke mulut dalam bentuk syair. Maka wajar jika kemudian terjadi berbagai versi. Bahkan ada yang menganggap bahwa kisah Romeo-Juliet  diilhami dari kisah cinta Laila-Majnun ini. Dari situlah timbul ketertarikan untuk menganalisis novel.

Layla Majnun adalah kisah yang menceritakan sorang pemuda tampan gagah dan penuh wibawa yang terkenal dikawasan Kabilah Bani Amir, Jazirah Arab yang bernama Qays. 

Ia mencinti seorang wanita dari kabilah lain yang tak kalah terkenalnya, yang bernama Layla. 

Mereka menjalani kisah cinta secara sembunyi, karena pada waktu itu belum waktunya untuk mereka berdua memadu cinta. Seiring berjalannya waktu kisah cinta itupun akhirnya tak bisa disembunyikan lagi.semua orang tau kisah cinta mereka, termasuk orang tua Layla. Keluarga Layla tidak menyetujui hubungan mereka. 

Bahkan mereka tidak bisa benjumpa satu sama lain. Semakin hari Qays semakin gelisah bahkan masyarakat yang merasa aneh melihat tingkah Qays, mereka memanggil Qays dengan panggilan Majnun “Gila”. 

Ayah Qays Syed Omri meminang Layla untuk Qays. Namun apa daya, Majnun tetap berkelakuan seperti orang gila, sehingga orang tua Layla menolak pinangan itu.

Cintanya terhadap Layla, membuat Qays semakin tampak seperti orang gila secara fisik, kehilangan kemanusiaannya. Ia lebih memilih binatang-binatang rimba sebagai teman dibandingkan manusia. Meskipun sepasang kekasih ini tidak bisa bersatu dunia tetapi kematian telah memberikan hadiah keabadian pada mereka.

Saya menganalisis novel Layla Majnun  dengan menggunakan beberapa unsur intrinsik, yaitu : tema, alur, tokoh, penokohan, setting atau latar, dan sudut pandang.  Penjelasannya akan saya sajikan per bagian agar jelas dan dapat dipahami.

Pada bagian awal cerita, dipaparkan tentang gambaran Kabilah Bani Amir yang bertempat di Lembah Hijaz, Arabia diantara kota Makkah dan Madinah. 

Tempat dimana tokoh utama dan tokoh yang lain tinggal. Pemaparan tokoh utama tidak langsung melalui kalimat, melainkan melalui pendeskripsiannya. Seperti dalam kutipan:
Istri Syed Omri melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan rupawan, bagai bintang kejora diantara bintang-gemintang dilangit. Kulitnya kemerah-merahan, rambutnya ikal, matanya sejernih embun pagi, ditambah dengan lesung pipit di pipinya yang membuat semua orang terpana. Qays nama bayi itu  (Layla Majnun, 2002:5).

Tokoh selanjutnya yaitu Layla. Tokoh layla muncul setelah pendeskripsian tentang diri Layla. Yaitu  gadis yang memiliki paras cantik. Berikut kutipannya :
Diantara anak-anak dari berbagai kabilah, terlihat seorang gadis cantik berusia belasan tahun. Wajahnya anggun mempesona, lembut sikapnya, dan penampilannya amat bersahaja. Gadis itu bersinar cerah seperti matahari pagi, tubuhnya laksana pohon cemara, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam, tebal bergelombang. Gadis yang menjadi buah bibir dan penghias mimpi itu bernama layla (Layla Majnun, 2002 : 9).


Dari sinilah cerita cinta dimulai, Qays merasakan pancaran keindahan. Qays benar-benar jatuh hati pada Layla, sang mawar jelita. Seperti pada kutipan berikut:
Qays sendiri sejak pertama kali melihat pancaran cahaya keindahan itu, jiwanya langsung bergetar. Ia seperti merasakan bumi berguncang dengan hebatnya, hingga merobohkan sendi-sendi keinginannya untuk menuntut ilmu. Qays belum pernah melihat keindahan yang menakjubkan di bumi seperti keindahan paras Layla (Layla Majnun, 2002:11 ).

Dari pemaparan dua tokoh yang berperan sangat  penting dalam novel ini, maka tema sentralnya sangat jelas. Tema sentral dari novel Layla Majnnun adalah tentang percintaan yang kental dengan nuansa religi, yang terjadi di sekitar di daerah Arab. Dapat kita lihat, dua insan ini saling jatuh cinta. Cara mereka mencintai juga bernuansa religi, tidak vulgar, namun tampak secara perlahan.
Dari waktu ke waktu cinta tumbuh subur dan berbunga harum di dalam taman hati Qays dan Layla. Tetapi jiwa mereka masih malu-malu, lidah mereka kelu, hingga tiada kata-kata indah merayu yang terucap, hanya mata mereka yang berbicara. Ketika keduanya pasang mata saling pandang, maka sabda jiwa mereka tak mampu disembunyikan lagi. Melalui pancaran mata, jiwa mereka seolah mengatakan tidak ingin berpisah, sembari merasakan kehangatan cinta (Layla Majnun, 2002:13).

Tema bawaannya adalah perjuangan cinta seorang pemuda terhadap seorang yang sangat ia cintai, hal ini sangat terlihat pada saat mereka harus terpisah. Namun Qays tetap bersikeras mencari dimana Layla dipindahkan. Seperti dalam kutipan dibawah ini:


Qays menjadi gelisah, tak sekejappun ia sanggupkan memejamkan mata. Jika malam datang, secara sembunyi-sembunyi Qays meninggalkan rumah, berjalan tak tentu arah, menerobos semak belukar menuju padang belantara dengan langkah gontai. Ia sedang mencari sesuatu, namun tak jua bersua yang dicari. Kenangan pada Layla, membuat Qays tidak peduli segala bahaya yang menghadang (Layla majnun, 2002:17).

Cinta terlarang juga menjadi tema sampingan dalam novel ini, hal ini terlihat pada saat orang tua Layla mengetahui hubungan mereka berdua, dan orang tua Layla segera memisahkan mereka berdua. Seperti dalam kutipan dibawah ini:

Angin berhembus membawa kisah asmara pada keluarga si gadis. Kabar itu bagai arang hitam yang membuat bani Qhatibiah tersinggung, harga diri mereka ternoda. Bukankah ada pepatah yang mengatakan lebih baik kehilangan nyawa dari pada menanggung malu? Lebih baik memutus ruh cinta dari pada terus-menerus menanggung aib. Itulah yang dipikirkan ayah Laila (Laila Majnun, 2002:15).

Kasih sayang orang tua terhadap anaknya adalah tema sampingan berikutnya, hal ini terlihat pada saat ayah Qays merasa sedih melihat anaknya bertingkah aneh, menderita dalam cinta. Dan berusaha mengobati kesedihan putranya “Tak urung tabiat Qays menjadikan Syed Omri merasa bersedih. Dengan cinta dan kasih nan tulus seorang ayah, Syed Omri berusaha mengobati kesedihan putranya dengan memberi nasihat dan menghiburnya” (Layla Majnun, 2002:33).

Muncullah pertikaian antara kisah cinta Qays Laila  dengan orang tua Layla. Orang tua Laila tidak menyetujui hubungan mereka, karena menurut ayah Layla itu merupakan aib keluarga. Berikut Kutipan:

Angin berhembus membawa kisah asmara pada keluarga si gadis. Kabar itu bagai arang hitam yang membuat bani Qhatibiah tersinggung, harga diri mereka ternoda. Bukankah ada pepatah yang mengatakan lebih baik kehilangan nyawa dari pada menanggung malu? Lebih baik memutus ruh cinta dari pada terus-menerus menanggung aib. Itulah yang dipikirkan ayah Laila (Laila Majnun, 2002:15).

Klimaks pertikaian terlihat pada saat pasukan Naufal, pembela Majnun menyerang Kabilah Qhatibiah. Karena pihak Layla menolak pinangan Majnun yang diwakilkan oleh Naufal “Akhirnya kabilah Qhatibiah menyerah, pasukan naufal memenangkan pertempuran tersebut dari pihak keluarga Layla, banyak prajurit yang terluka dan berkalang tanah” (Layla Majnun, 2002: 110).  

Namun, meskipun pasukan Naufal menang, ayah Layla tetap tidak menyetujui permintaan Naufal meminang Layla untuk Majnun. Dan penyelesaian cerita yang tergambarkan, Laila meninggal dunia sedangkan Majnun Masih menunggunnya. Hingga majnun menyusul Laila. Berikut Kutipan:

Tiba-tiba Majnun melepaskan pelukannya dari nisan Layla, tangannya tengadah ke atas, berdoa pada pemilik kehidupan. Semakin lama suara Majnun semakin melemah. Sayap-sayap kematian telah mengajaknya terbang menemui Layla sang kekasih di alam keabadian. Gerbang kematian terbuka, dan mengajaknya pergi meninggalkan dunia fana (Layla Majnun, 2002:195).

Novel Layla Majnun karya Syaikh Nizami ini.

Qays merupakan tokoh sentral dalam cerita ini. Dalam novel ini, Qays di gambarkan sebagai tokoh protagonis, yaitu seorang anak yang cerdas, tekun, dan juga ringan tangan. 

Berikut kutipannya:
Qays termasuk anak yang cerdas dan tekun. Ia dapat dengan cepat menerima pelajaran yang disampaikan oleh sang guru. Ia juga termasuk anak yang mudah bergaul, karena memiliki kefasihan lidah, dan pandai merangkai kata-kata menjadi syair yang sangat indah. Dan juga termasuk anak yang ringan tangan, gemar membantu kawan-kawannya yang ditimpa musibah dan kemalangan (Layla Majnun, 2002:9).

Qays juga digambarkan sebagai sosok yang rela berkorban dan memperjuangkan cintanya. Dalam cerita, pada saat Layla di pingit, Qays rela pergi dari rumah untuk mencari pengobat hatinya. Berikut kutipannya :

Qays menjadi gelisah, tak sekejappun ia sanggupkan memejamkan mata. Jika malam datang, secara sembunyi-sembunyi Qays meninggalkan rumah, berjalan tak tentu arah, menerobos semak belukar menuju padang belantara dengan langkah gontai. Ia sedang mencari sesuatu, namun tak jua bersua yang dicari. Kenangan pada Layla, membuat Qays tidak peduli segala bahaya yang menghadang (Layla majnun, 2002:17).

 Tokoh selanjutnya adalah Syed Omri, penulis memaparkan bahwa Syed Omri adalah tokoh tritagonis, ia seorang pimpinan kabilah, pemipin kaya raya, wibawa, gagah, dan pemberani. Seperti dalam kutipan berikut:
Walau sudah tua, namun kekuasaan Syed Omri begitu disegani laksana kekuasaan seorang raja, kata-katanya menjadi sabda, dan perintahnya adalah titah yang tak seorangpun berani melawan. Demikian besar pengaruh kewibawaan Syed Omri, sehingga namanya tersohor bukan hanya di negerinya sendiri, tapi sampai ke negeri-negeri lain. Harta kekayaannya melimpah, bak kekayaan nabi Sulaiman. Meski tujuh turunan menikmati hasil kekayaannya, niscaya harta itu tidak akan berkurang (Layla Majnun, 2002:2).

Syed Omri adalah seorang pemimpin yang selalu bersyukur, sabar, dan rendah hati, ia selalu berdoa kepada allah meskipu keinginannya belum terkabul. sebagaimana kutipan berikut:
Tuhan, aku selalu memujamu, selalu menyembahmu, tapi mengapa doaku belum juga engkau kabulkan? Laksana kaum pecinta, air mata ku yang beninng dan jernih menetes merinduka buah hati nan tidak kunjung jua beri. Ya allah ya tuhanku, engkau adalah ilham dan pemberi keturunan, hamba memohon kepadaMu hilangkan kepedihan dan kerinduan hamba (Layla Majnun, 2002:3).

Layla adalah kotoh selanjutnya, di awal pemunculannya. Tokoh layla digambarkan oleh pengarang sebagai seorang gadis cantik, sabar, perhatian, lemah lembut dan tabah.  Sehingga Layla termasuk tokoh protagonis. Sebagaimana kutipan berikut:
Diantara anak-anak dari berbagai kabilah, terlihat seorang gadis cantik berusia belasan tahun. Wajahnya anggun mempesona, lembut sikapnya, dan penampilannya amat bersahaja. Gadis itu bersinar cerah seperti matahari pagi, tubuhnya laksana pohon cemara, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam, tebal bergelombang. Gadis yang menjadi buah bibir dan penghias mimpi itu bernama layla (Layla Majnun, 2002 : 9).

Tokoh Layla juga memunculkan rasa belas kasih, ketika ia mendengar kabar yang memilukan tentang pujaan hatinya yaitu Qays. Layla sangat merasakan apa yang dirasakan Qays “Dengan suara lirih seperti rintihan orang tak berdaya, Layla berkata, “aku adalah gadis yang selalu bersabar terhadap segala hal yang menimpa. Namun dalam cinta, aku tidak mampu bersabar. Kumohon wahai tuan, ceritakan lagi keadaan Qays” (Layla Majnun, 2002:88).

Tokoh selanjutnya  adalah Ibu Qays. Dalam penokohannya, ibu Qays digambarkan sebagai ibu yang pengertian terhadap kondisi Qays.  Ibu Qays mengerti apa yang diinginkan putranya, sehinnga ia meminta kepada Suaminya agar cepat meminang Layla untuk Qays, sehingga menjadi tokoh penengah atau tritagonis. Berikut kutipannya:
Cinta telah membuatnya buta, hingga semua wajangan tidak bisa masuk ke telinganya. Ia memang gila. Tapi gila karena cinta. Bila engkau ingin ia sembuh dan tidak bekelakuan ganjil, maka hanya ada satu cara, seperti api yang akan menyala bila ada minyak, seperti dedaunan akan bergoyang bila tertiup angin. Itulah yang harus dilakukan ayah yang budiman. satukan mereka dalam ikatan cinta, hannya dengan  itu kegilaannya akan terobati (Layla Majnun, 2002 : 34).

Tokoh selanjutnya adalah Ayah Layla, penokohan yang saya dapat dari tokoh ini adalah, tokoh ini sangat sensitif dan keras pendiri dan menjadi penentang dalam novel ini atau antagonis, pada saat Syed Omri datang ke rumah Layla berniat meminang Layla untuk Qays, namun Ayah Layla tidak menyetujui anaknya menikah dengan orang tidak waras seperti Qays.

Kutipan 1:
Ayah Layla adalah orang yang keras pendirian. Kata-kata Syed Omri menyinggung harga dirinya Lalu ia menjawab dengan meninggikan suara, “jodoh manusia tidak tergantung pada kehendak kita, tapi pada surga, tempat semua kekuatan, kebenaran dan kejujuran diberikan. Kita hanya bisa berencana dan mengemukakan alasan, namun suratan takdir yang menentukan (Layla Majnun, 2002:37).

Kutipan 2: Memang secara lahir anak tuan gagah dan tampan bagai rembulan, namun penyakit yang ia derita tidak mengkin dapat disembunyika. Tuan tidak dapat membohongi atau menutup-nutupi kenyataan ini. Dan maaf seribu maaf, sebaiknya lupakanlah apa yang telah tuan ucapkan, apalah guna berangan-angan, jika hanya akan menyesatkan akal dan pikira! (Layla Majnun, 2002:37).

Tokoh berikutnya adalah Naufal. Dalam penokohannya, Naufal adalah seorang Bangsawan yang baik dan termasuk tokoh penengah atau tritagonis. Dialah yang menolong dan memberikan makanan kepada Qays di tengah padang pasir yang sepi akan Pemukiman. Berikut kutipannya:
Kemudia ia meminta pengikutnya untuk mendirikan sebuah tenda dan menyiapkan hidangan untuk mereka. Buah-buahan segar, anggur manis, dan daging lezat dihidangkan. Naufal mempersilakan Majnun menikmati hidangan itu, namun Majnun tampak enggan. Setelah dibujuk dengan mengucapkan nama Layla, barulah Majnu mengambil satu potong roti (Layla Majnun, 2002:97).

 Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya ( Aminuddin, 2010:90 ). Narator atau pengisah yang juga berfungsi sebagai pelaku cerita. Narrator observer adalah bila pengisah hanya berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilaku batiniah para pelaku. Berkebalikan dengan narrator observer, dalam narrator omniscient pengarang, meskipun hanya menjadi pengamat dari pelaku, dalam hal itu juga merupakan pengisah atau penutur yang serba tahu meskipun pengisah masih juga menyebut nama pelaku dengan ia, mereka, maupun dia.
Yang dimaksud sudut pandang orang pertama adalah cara bercerita di mana tokoh pencerita terlibat langsung mengalami peritiwa-peristiwa cerita (akuan). Penceritaan akuan sertaan, penceritaan akuan di mana pencerita menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut. Pencerita akuan taksertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita.
  Sedangkan yang dimaksud sudut pandang orang kedua adalah sudut pandang bercerita dimana tokoh pencerita tidak dalam peristiwa-peristiwa cerita (diaan). sudut pandang orang ke tiga serba tahu,  penulis tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Sudut pandang orang ke tiga terbatas penulis seolah-olah hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja. Penulis hanya memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya.
Dalam novel fiksi ini, pengarang menggunakan sudut pandang orang ke tiga terbatas, “Tiba-tiba Majnun melepaskan pelukannya dari nisan Layla” (Layla Majnun,2002:195).
penulis seolah-olah hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja. Penulis hanya memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya.

 Gaya Bahasa
Bahasa dalam karya sastra bukan hanya untuk menyampaikan ide atau pendapat pengarang. Juga untuk mengungkapkan perasaan. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa dalam karya sastra adalah dengan menggunakan perbandingan, penghidupan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Itulah sebabnya terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas, seperti ungkapan, peribahasa, dan gaya bahasa.
 Hampir dari semua isi dan hampir disetiap halaman, gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang adalah bahasa kiasan. Seperti majas perbandingan, “Mawar bergoyang mewangi, diantara pesona keindahannya, ia menyimpan duri yang bisa melukai orang yang berusaha mendekat” (Layla Majnun, 2002:120).  Maksud dari kutipan tesebut, layla memang cantik. Tapi dibalik kecantikan itu, layla tidak hanya membuat seorang akan merasa senang. Tapi juga bisa membuat seorang sakit hati padanya. 

Seperti halnya kutipan berikut, “Tubuh dan wajah majnun yang dulu bak bulan purnama dengan keharuman bunga lili, kini terbalut debu” (Layla Majnun, 2002:44). Maksud dari kutipan tersebut, Qays adalah laki-laki tampan, harum. Tapi kini ketampanannya ditutupi oleh kesedihannya. Dan juga pada kutipan, “Angin apakah membawa tuan kemari dengan membawa kuda-kuda pilihan dan rombongan yang gagah perkasa?” (Layla majnun,2002:35).

Sastra timur tengah memang khas dengan penggunaan bahasa kiasan, seperti beberapa kutipan yang telah saya paparkan di atas. Namun sastrawan di Indonesia, juga banyak menggunakan bahasa-bahasa kiasan dalam novelnya. Perbedaannya menurut saya, dalam novel Layla Majnun ini hampir semua isi novel menggunakan bahasa-bahasa kiasan, peribahsa dan lain-lain. Menurut saya, novel-novel modern di Indonesia hanya beberapa saja dalam penggunaan bahasa-bahasa kiasannya, misalnya di bagian pemaparan tokoh. Beda halnya dengan karya Syaikh Nizami ini. Tiap dialog antar tokoh, pemaparan tokoh, dan lain-lain. Syaikh Nizami menggunakan bahasa kiasan, peribahasa, perbandingan, dan lain-lain. Sehingga memiliki keindaha tersendiri. 

Amanat
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat bisa disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau tingkah laku tokoh menjelang akhir cerita. Dapat pula secara eksplisit yaitu dengan meyampaikan seruan, saran, peingatan, nasihat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita. Amanat yang bisa di ambil dari novel Layla majnun ini, dalam menghadapi sebuah cobaan seberat apapun, kita harus tetap semangat bangkit dan tak menyerah memperjuangkan cinta, karena dunia akan terasa bermuram durja tanpa seorang kekasih untuk menghiburmu. Seperti halnya Qays memperjuangkan cintanya untuk Layla. Namun janganlah membuang waktu kita hanya untuk sesuatu yang tidak emungkinkan untuk kita dapatnya.
Bertingkahlah sopan, karena jika anda dihormati orang lain maka hormatilah orang. Jangan sampai menyakitkan hati orang lain
Memang secara lahir anak tuan gagah dan tampan bagai rembulan, namun penyakit yang ia derita tidak mengkin dapat disembunyika. Tuan tidak dapat membohongi atau menutup-nutupi kenyataan ini. Dan maaf seribu maaf, sebaiknya lupakanlah apa yang telah tuan ucapkan, apalah guna berangan-angan, jika hanya akan menyesatkan akal dan pikiran! (Layla Majnun, 2002:37).

 Tema dari novel Layla Majnun  adalah tentang percintaan yang kental dengan nuansa religi, yang terjadi di sekitar Timur Tengah. Dapat kita lihat, Cara mereka mencintai juga bernuansa religi, tidak vulgar, namun tampak secara perlahan. Alur yang digunakan pada novel ini merupakan alur maju.  Tokoh-tokoh yang terdapat dalam laila majnun adalah Qays, Layla, syed Omri, ibu Qays, Naufal, Ayah layla.
Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; soial budaya; dan latar suasana. Latar tempat di Arabia, latar waktu malam hari, latar sosial budaya Timur tengah, dan latar suasana yang hampir mendominasi suasana mengharukan.
Gaya bahas yang digunakan penulis adalah bahasa kiasan, perbandingan, dan peribahasa. (*)

Komentar

Hiburan Lainnya