JPNews - Nikah pesanan yang dilakukan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) hampir merata di Indonesia.

Kepala Subdit Kawasan 4 Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) Kemlu, Tony Wibawa mengatakan pada awalnya masih menggaet perempuan Indonesia keturunan Tionghoa yang hidup kurang mampu dan berpendidikan rendah seperti dari daerah Kalimantan Barat. 

Namun saat ini, mereka juga tertarik untuk menikahi perempuan Indonesia dari suku lainnnya seperti Sunda di Jawa Barat.

"Untuk Jawa Barat, ada 12 kasus yang sudah kami tangani," ungkap Tony, Senin (24/6).

Di Jawa Barat, sambunh dia, ada satu kasus yang berhasil digagalkan dan sudah mendapat vonis dari pengadilan negeri, yakni hukuman 9 tahun penjara bagi agen yang berasal dari RRT dan 8 tahun bagi agen yang ada di Indonesia.

Ketika ditanya terkait peran pemerintah RRT dalam penanganan masalah ini, Tony mengakui hal tersebut sulit dilakukan mengingat kebijakan pemerintah RRT yang menganggap perkawinan tersebut ilegal, sehingga pemerintah tidak mau mencampurinya.

Tony menambahkan pihaknya berencana menggelar kegiatan kampanye penyadaran publik terkait pencegahan pengantin pesanan kerja sama antara Kemlu, Kemenag dan Kemdagri pada Juli di Provinsi Kalimantan Utara dan Jawa Barat. Itu pun apabila  disetujui oleh masing-masing kementerian, 

"Pesertanya Kepala KUA, Dinas Dukcapik, aparatur kelurahan/desa dan sejumlah LSM pemerhati perlindungan perempuan dan anak," pungkasnya.

(mam/JPN)

Komentar

Nusantara Lainnya