Aurel Andita Shafira

KETIKA mendengar kata vanilla atau vanillin, kebanyakan orang pasti akan teringat dengan rasa manis dan gurih yang khas. Hal ini dikarenakan vanilin sering digunakan untuk memberi rasa dan aroma di berbagai produk makanan dan minuman, seperti susu, kue atau kukis. Meski begitu, apakah Anda tahu bahwa vanillin juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet?

Umumnya perisa vanilla yang digunakan adalah dalam bentuk batang vanilla, bubuk vanilla dan ekstrak vanilla, dimana komponen terbesarnya adalah senyawa vanillin. Vanillin ini merupakan senyawa organik yang dapat diproduksi secara alami.

Vanillin memiliki struktur yang pada salah satu bagiannya terdapat yang dinamakan dengan gugus fenol. Gugus fenol inilah yang memberikan vanillin potensi untuk dimanfaatkan sebagai pengawet karena gugus fenol memiliki efek antimikroba.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Quadram Institute Bioscience pada tahun 2004 membutikan bahwa vanillin memiliki kemampuan untuk merusak membran dari beberapa jenis bakteri, yakni bakteri Escherichia coli, Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus innocua walaupun efek merugikannya tidak terlalu mematikan untuk sebagian besar populasi mikroba. Beberapa penelitian lainnya juga telah membuktikan bahwa vanillin memiliki efek antimikroba yang kuat terhadap sejumlah kapang dan khamir.

Selain itu, sekitar 90% vanillin yang dijual di pasaran merupakan vanillin sintesis yang dibuat dari lignin atau iso-eugenol. Iso-eugenol sendiri telah terkenal memiliki kandungan aktif antibakteri dan sering digunakan untuk bahan baku obat antiseptik di industri farmasi.

Senyawa lignin juga memiliki banyak kandungan yang bersifat antimikroba, antioksidan dan antibakteri, salah satunya adalah kandungan senyawa asam organiknya. Lignin juga kini banyak dikembangkan untuk dijadikan pengawet makanan. (*)

Penulis Aurel Andita Shafira

Mahasiswa Departemen Teknologi Industri Pangan, Universitas Padjajaran (Unpad)

Komentar

Netizen Lainnya