ilustrasi (istimewa)

JPNews - Hasil final calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkup Pemerintah Kabupaten Lampung Utara (Lampura) dinilai sarat dengan rekayasa.

Pasalnya, terdapat penambahan alokasi tenaga honorer K2 sebanyak 26 orang yang tidak jelas juntrungannya.

Dari sebelumnya 14 orang kini menjadi 40 orang dinyatakan lulus.

Sedangkan sejak awal pihak pemerintah daerah melalui BKPSDM tidak menjelaskan secara rinci, sehingga menimbulkan banyak persepsi dari berbagai kalangan masyarakat di Lampura.

Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media, Minggu (31/3), dari 14 formasi K2 disediakan awal dalam formasi 323 hanya ada 7 peserta memenuhi passing grade, sementara sisanya dinyatakan gagal.

Seiring berjalan waktu karena tidak memenuhi kuota ditetapkan yakni 358, maka terjadi penurunan passing grade (SKD) secara nasional, sehingga jumlah peserta lulus serupa formasi awal (14).

"Setelah itu tidak terdengar kabar lagi, dan informasi terakhir terjadi penambahan alokasi (formasi) untuk K2 sebanyak 26 orang. Alasan mereka (panitia) sekonyong-konyong dari pusat karena ada persamaan nilai. Ya masak iya itu ada tanpa permintaan atau lobi-lobi daerah. Sementara yang membutuhkan itu daerah dan menggajinya dari mana, sementara kesedian keuangan kita macam begini," kata salah seorang peserta yang gagal ikut tes.

Menurutnya hal tersebut menimbulkan berbagai penilaian negatif di tengah-tengah masyarakat akan kemurnian seleksi CPNS untuk tenaga honorer K2.

"Masak iya pusat menambahkan alokasi tanpa mengetahui jelas kebutuhannya, dan seperti apa tolak ukur penilaian yang dipakai," kata dia.

Yang jadi pertanyaan kebijakan penambahan formasi K2 dari 14 menjadi 40 ini datangnya dari pusat atau ada usulan dari daerah.

Hingga berita ini dirilis pihak BKPSDM belum berhasil dikonfirmasi menanggapi informasi itu.

(*/sol)

Komentar

Lampung Lainnya