Ilustrasi

JPNews - Para pedagang Pasar Baru Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat berharap pasarnya di revitalisasi. Kondisi pasar tradisional itu sangat memprihatinkan. Jalannya becek, bau, pengap, dan kumuh. Akibatnya  sebagian pembeli beralih berbelanja ke pasar modern. 

Ketua Forum komunikasi pasar baru Cikarang, Yuli Sri Mulyati menyatakan, hal tersebut saat kandidat Gubernur Jabar Ridwan Kamil bertandang ke pasar tradisional Cikarang, Selasa (27/2). 

"Revitalisasi yang kami minta adalah pemerintah bangun pasar ini menggunakan dana APBD dan APBN, agar tidak ada lagi beban biaya sewa kios, seperti pasar-pasar di daerah lain yang dibangun dari uang pemerintah," kata Yuli sapaan akrab Yuli Sri Mulyati saat ikut blusukan ke pasar tradisional Cikarang. 

Menurut dia, para pedagang yang punya hak toko, existing atau PKL harus dapatkan haknya untuk mendapatkan kios. 

"Kalaupun harus bayar, ya bayar kebersihan keamanan, dan ketertiban," ujar Yuli. 

Diketahui, Pasar Cikarang didirikan  tahun 1992,  namun pada tahun 1998 saat kerusuhan terjadi, pasar ini dibakar. Selanjutnya pada 2015, pasar ini dibangun kembali.

"Rencana pemerintah mau bangun pasar ini, tapi kami minta jangan sampai pasar ini dibangun oleh swasta karena kalau swasta yang bangun, pasti memberatkan pedagang dan hanya menguntungkan pengembang," ujarnya. 

Menanggapi hal itu Ridwan Kamil mengakui bahwa pasar itu memang pengab, becek, dan panas karena sirkulasi udara tidak bagus. Padahal, kata dia,  setiap orang butuh datang ke pasar. Untuk itu jika dia terpilih, dia akan merevitalisasi pasar-pasar yang kondisinya memprihatinkan agar pasar tradisional tetap diminati pembeli. 

"Meski kondisi pasar seperti ini, saya melihat tali ekonominya tetap menggeliat, tinggal kenyamanan saja yang harus ditingkatkan. Saya ingin tempat ini bersih, mari hidupkan wisata belanja di pasar ini,"  kata Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Saat hendak masuk ke Pasar Cikarang, Kang Emil dicegat oleh seorang ibu pedagang gorengan. Awalnya dia menawari Kang Emil untuk beli gorengannya. Kang Emil pun membelinya, belum selesai membungkus gorengan untuk pembelinya, tiba-tiba ibu itu memeluk erat  Kang Emil cukup lama sambil menangis. 

Wajah haru Kang Emil terlihat saat si ibu menangis. Kang Emil berusaha menenangkan  tangisan si ibu. Lalu 

Ibu ini curhat, bahwa dirinya merindukan pemimpin yang sayang sama rakyat kecil dan miskin seperti dirinya.  

"Saya orang miskin, janda ditinggal meninggal suami, punya empat anak. Dua  sudah menikah dan dua lagi masih kecil-kecil. Kasihan anak saya nggak punya baju seragam dan buku, Pak," ucap Endah Zubaedah, (46). 

Mendengar curhat si ibu, Kang Emil pun menunjuk salah seorang  relawannya untuk segera mengurus bantuan yang dibutuhkan oleh Ibu Endah. 

"Saya tolong ibu melalui relawan saya di sini, dia pedagang di sini juga. saya  minta doanya kepada anak yatim, semoga perjuangan saya berhasil," ujar Kang Emil. Si ibu pun segera menangkap tangan Kang Emil lalu mencium punggung tangannya sambil mengucapkan terima kasih. 

"Saya terharu lihat Pak Ridwan Kamil di sini, dia orang baik, yang sayang sama orang miskis seperti saya dan sangat mengerti rakyat kecil," kata Endah. 

Selama blusukan di pasar Cikarang sekitar 1 jam lebih banyak pedagang berebut selfie. Teriakan relawan yang berseru "Jabar Juara!" Berkali- kali terdengar membuat pedagang lain mengerebuti Kang Emil untuk berebut selfie.

"Permintaan saya hanya satu, bangun pasar ini menjadi lebih baik," kata Ujang, pedagang ikan. 

Sementara itu, Ibu-ibu pedagang yang telah berselfie pun menyatakan kekagumannya pada sosok Kang Emil. 

"Udah baik, muda, lebih ganteng aslinya daripada di TV," ujar Siti, pedagang pakaian sambil memperlihatkan handphonenya setelah  berswafoto  dengan Kang Emil.

Setelah blusukan ke Pasar Baru Cikarang, Kang Emil melanjutkan blusukannya ke Pasar Induk Cibitung, Kabupaten Cibitung. 

"Saya sapa pedagang, bersilahturami sekaligus  mencari masalah  untuk kemudian saya carikan solusi terbaiknya," pungkasnya.(rls/drw)

Komentar

Jabar Lainnya