TOP 0 Bola



JPNews - Perjalanan Persib Bandung di tahun 2018 ini, bukanlah perjalanan yang mudah. Meski diakhiri dengan posisi empat besar, tahun ini menjadi tahun yang penuh drama bagi semua elemen Persib Bandung. Manajemen, pelatih, hingga pemain. Berikut beberapa drama tersebut.

1. Alot Menentukan Pelatih Kepala

Sebelum akhirnya Mario Gomez resmi melatih Maung Bandung, publik sepak bola Jawa Barat sempat dibuat kebingungan. Pasalnya saat itu yang santer diberitakan menjadi pelatih kepala adalah Rahmad Darmawan. Bahkan dalam beberapa postingan Instagram istri RD, pelatih sarat pengalaman itu beberapa kali mengunjungi Kota Kembang. Namun berita burung itu akhirnya terbantahkan ketika eks pelatih JDT menandatangani kontrak menangani Supardi cs, Mario Gomez.

2. Haru Biru Kepergian Sang Kapten

Begitu Gomez diumumkan resmi menangani Persib, drama selanjutnya dimulai. Kabar kedatangan defender baru, yang juga pernah menjadi anak asuh Gomez di Liga Hongkong, Bojan Malisic. Posisi center back pun digoyang. Jufriyanto sempat absen pada salah satu laga Piala Presiden, akhirnya dia pun pergi. menyusul rekan duetnya yang sama-sama memberi Persib beberapa trofi. Jufriyanto dan Vladimir Vujovic. Dikabarkan keduanya dibuat tidak nyaman dengan berita kedatangan palang pintu anyar. Vlado yang beberapa kali tertangkap menonton pertandingan liga 2, dia dikabarkan akan menyusul Djanur ke PSMS. Meski akhirnya berlabuh di Bhayangkara FC. Sementara Jupe memilih hijrah ke Negeri Jiran dengan pamitan di konferensi pers pada pertandingan terakhirnya. 

3. Posisi Pemain Berumur Mulai Terancam

Gomez yang ternyata doyan mengolah pemain muda, menjadi ancaman tersendiri bagi beberapa pemain senior. Salah satunya adalah Atep. Dia sempat dikaitkan dengan klub Thailand yang tertarik dengan olah bolanya. Gomez pun tidak mempermasalahkan itu, tapi manajer, Umuh Muchtar, meradang karena menurutnya Atep adalah ikon. Tak hanya di awal musim Atep diterpa isu itu, di musim pun ia sempat dikabarkan akan berseragam PSIS Semarang. Tapi tidak kejadian, meski begitu jam bermainnya jauh berkurang di bawah arahan Gomez. Selain Atep, kita ingat Tantan yang resmi dilepas di awal musim.

4. Gomez, 'The Sensational One'

Ternyata di balik kepiawaiannya meramu tim, sosok Gomez ternyata sensasional bagi sepak bola tanah air. Beberapa kali dia mengeluarkan ancaman baik bagi tim ataupun federasi. Ia pernah berstatment pada awak media bahwa dia mengenal beberapa orang di FIFA, maka ia tidak segan melaporkan apa yang terjadi dalam sepak bola tanah air. Selain itu, dia juga berkali-kali mengancam akan meninggalkan Persib karena menurutnya tim sebesar Persib tidak memiliki sarana latihan yang baik. Meski semua ancamannya itu tidak kejadian, ucapan-ucapannya itu sempat membuat geger masyarakat bola Jawa Barat. Terakhir, setelah ia diputus kontrak, ia memposting ancaman di Instagramnya dengan akan mengirimkan pengacaranya soal penghentian kontrak oleh Persib Bandung. 

5. Awal dari Sebuah Anti Klimaks

Persib yang sempat diatas angin, dengan merajai liga di pekan-pekan terkahir putaran pertama Liga 1, nyatanya harus berujung antiklimaks. Sebagai juara paruh musim, dalam lebih dari enam pertandingan awal di paruh kedua, Persib masih tidak mudah digoyang kompetitor di papan klasemen. Tapi setelah mengalahkan Persija di GBLA, cerita itu berbalik. Persib alami sanksi luar biasa, yang mungkin tidak pernah diterima klub bola profesional lain di Liga Indonesia, setelah berita kematian Haringga, Jakmania yang datang ke GBLA pada laga itu. Pertandingan tanpa penonton serta laga usiran di luar Jawa hingga akhir musim, dan berlanjut di musim berikutnya, membuat Persib melemah. Lebih lemah lagi ketika lima punggawa inti disanksi larangan bermain. Dari sana lah drama yang lebih menjijikan dimulai. Banyak gelombang protes dari Bobotoh, tapi semua tidak menghasilkan. 

6. Ruang Ganti yang Memanas

Setelah sanksi itu, grafik performa Persib menurun. Hingga puncaknya terjadi ketika pertandingan melawan PSMS di Kalimantan. Kekalahan Persib diduga karena adanya keterlibatan pemain dalam pengaturan skor. Gomez dikabarkan marah di ruang ganti, beberapa pemain melawan emosi Gomez dengan emosi. Meski tak sampai terjadi adu fisik, masalah dianggap selesai dengan dilaksanakannya Konferensi pers oleh manajemen. Setelah itu, semua dianggap selesai, tapi performa Persib tetap tidak segarang paruh musim pertama. Setelah pertandingan itu, Persib pun dipastikan kesulitan merengkuh gelar juara musim 2018. 

7. Sisa Emosi Pemain di Lapangan 

Dari ruang ganti, ternyata emosi itu tidak juga mereda. Di pertandingan terakhir melawan Barito Putera, duo striker Persib berselisih. Baumann yang tidak segera mengirim umpan untuk Nduasell yang sudah siap berlari, membuat King Eze murka. Ia pun menghampiri pemain Argentina itu, lalu menamparnya. Hal ini membuat geger, dan semakin menguatkan dugaan Bobotoh soal keretakan internal tim. 

8. Manajemen pun Semakin Gerah

Manajemen yang sejak awal memang terpecah soal kedatangan Gomez, akhirnya bulat suara, mereka gerah. Apalagi soal isu ulah translator, Fernando Soler, ia juga tak muncul batang hidungnya ketika konferensi pers soal pengaturan skor yang dituduhkan Gomez. Sebelum liga berakhir, manajemen mendatangkan Radovic sebagai direktur teknik Persib. Ia ikut mengasuh pasukan Maung Ngora, di akhir musim liga U-16 dan U-19. Kedatangan eks gelandang Persib itu pun menjadi pemantik isu Gomez akan digantikan. Radovic sendiri pernah beberapa kali menjadi asisten pelatih dan sudah mengantongi lisensi UEFA Pro. Isu itu pun terbukti, akhirnya manajemen mengakhiri kesepakatan dengan pelatih asal Argentina itu, sepaket dengan translatornya. Selain itu beberapa pemain andalannya pun dipastikan tidak diperpanjang, dua diantaranya adalan Jonathan Baumann dan Oh In Kyun. Kini di bawah asuhan Radovic, Bobotoh berharap Persib bisa mengarungi musim 2019 dengan lebih kondusif.

(Imam Maula Fikri)

Komentar

Bola Lainnya