TOP 0 Netizen

Ilustrasi

JPNews - Bisnis sepak bola di Indonesia, apakah bisnis atau gila? Kira-kira seperti itulah awal pemaparan Azrul Ananda dalam videonya yang diunggah di akun official Persebaya. Pada tulisan sebelumnya, kita tahu paling tidak klub sepak bola tanah air harus bisa menutupi defisit mereka. Defisit ini yang mungkin disebut sebagai kegilaan dalam bisnis sepak bola tanah air oleh Azrul. Banyak hal yang menjadi penyebab hal ini. Salah satunya adalah ketidak mampuan manajemen menggaet sponsor untuk pembiayaan tim.

Nama besar klub adalah salah satu nilai jual utama klub untuk para sponsor. Namun hal ini juga dipengaruhi prestasi klub sebagai dongkrak nilai jual mereka. Tak jarang kita lihat bagaimana klub besar dengan sejarah yang panjang dalam persepak bolaan Indonesia namun terseok-seok saat mencari sponsor bahkan sampai menunggak gaji pemain. 

Selain nama besar dan prestasi, faktor fanbase klub sepak bola pun menentukan nilai jual klub di mata sponsor. Namun, jumlah fanbase yang besar jika tidak ditunjang dengan citra baik supporternya, bisa juga menurunkan nilai jual klub di mata sponsor. Seperti itu lah kira-kira yang dijelaskan Azrul Ananda dalam videonya.

Dari apa yang penulis simak dalam video tersebut, penulis mencoba menarik beberapa hipotesa. Kondisi keuangan yang lebih banyak tidak sehatnya, mungkin menjadi faktor tidak adanya keberanian klub untuk transparan pada publik. walaupun menurut salah satu manajer tim yang berlaga di liga 1 musim lalu, transparansi ini telah mereka laporkan kepada instansi perpajakan. Tapi sekali lagi, prinsipil atau tidak secara bisnis, transparansi klub akan menjadikan sepak bola kita lebih menarik untuk disimak. Selain itu, transparansi pun akan membawa kita pada industri sepak bola yang lebih profesional.

Kemudian, adanya korelasi antara manajerial tim, klub, supporter, kekuatan finansial dan kekuatan tim. Dalam hitung-hitungan kasar, tidak mudah membangun tim dengan dana pas-pasan yang dimiliki. Meskipun ini tidak menjadi patokan. Karena pada beberapa kasus ada saja tim medioker yang mengangkangi tim besar di papan klasemen bahkan hingga menjuarai liga. Untuk kasus yang terakhir, kita bisa lihat bagaimana Leicester City bisa menjadi kampiun di musim perdananya di EPL beberapa musim lalu, padahal materi pemainnya tidak sementereng tim papan atas EPL saat itu.

Tapi sekali lagi, itu sangat jarang terjadi. Kita justru lebih mudah melihat bagaimana tim-tim seperti Manchester City, Chelsea, Real Madrid lebih mudah meraih prestasi di tingkat domestik atau yang lebih tinggi. Bahkan kita ingat bagaimana Chelsea comeback menjadi juara setelah puluhan tahun ketika status kepemilikan tim dipegang oleh taipan asal Rusia, Roman Abramovich.

Di Indonesia kita bisa lihat bagaimana Bali United sebagai tim baru bisa berbicara banyak di kompetisi musim lalu dan pra musim tahun ini. Juara Piala Presiden saat ini, Persija, bukanlah 'tim lama'. Persija menjadi berbeda ketika kepemilikan tim berpindah ke tangan Gede Widiade. Seorang pengusaha yang berhasil menutup hutang tim Macam Kemayoran dari manajemen sebelumnya.

Kelihaian manajer sebagai pengusaha untuk mendapatkan sponsor adalah catatan tersendiri bagi penulis. Setelah itu faktor nama besar, prestasi dan fanbase serta citra baik para supporter yang akan membantu para pemilik klub untuk melego calon sponsor. Dengan adanya nama besar tim, fanbase yang besar, serta citra yang baik dari suporter tim itu sendiri, kemudian ditambah kelihaian pemilik melego sponsor tentunya akan membuat tim itu mudah membangun kekuatan tim untuk mencapai prestasi yang diinginkan. 

Karena dari apa yang disampaikan, hanya dana sponsor lah yang paling bisa diandalkan tim untuk menopang berjalannya roda kehidupan tim itu sendiri. Lalu apakah ada dampak, baik secara langsung atau tidak, kondisi keuangan tim dengan kehidupan sepak bola kita.

Di awal videonya, Azrul menyatakan, kondisi keuangan menjadikan sepak bola di tanah air mudah disusupi kepentingan lain selain sepak bola itu sendiri, politik misalnya. Ini sudah tidak jarang kita lihat di sepak bola, khususnya negara kita, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. 

Dalam hal ini, maka hemat penulis, klub sepak bola di Indonesia perlu belajar bertaransparansi. Agar tidak adanya kepentingan lain di sepak bola selain sepak bola itu sendiri. Bahkan kepentingan untuk memperkaya diri sendiri. Seperti yang terkuak oleh KPK belum lama ini. Pejabat di daerah Banten terjaring OTT karena diduga melakukan pencucian uang dengan modus pemberian sponsorship bagi tim sepak bola lokal. 

Karena sepak bola mengajarkan kita untuk bermain fair, maka membuat segalanya transparan adalah cara kita bermain fair play dalam bentuk lain.

Oleh: Imam Maula Fikri, Bobotoh dan penikmat sepak bola tanah air

Komentar

Netizen Lainnya