JPNews.id - Business plan atau perencanaan bisnis, merupakan hasil analisa kondisi saat ini dan yang akan datang sebagai pernyataan formal yang berisi tujuan berdirinya sebuah bisnis yang dituangkan dalam suatu dokumen perencanaan.

Tujuan rencana bisnis ini adalah untuk mempertajam rencana-rencana yang telah ditetapkan, atau rencana yang diharapkan. Kemudian, untuk mengetahui arah dan tujuan perusahaan, dan sebagai cara untuk mencapai sasaran yang ingin dicapai.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bhagasasi (TB), Usep Rahman Salim kepada JPNews.id, Kamis (20/12).

Kata dia, PDAM sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, bergerak dalam jasa pelayanan penyediaan air bersih.

Maka, PDAM dituntut dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada pelanggan dari aspek kuantitas, kualitas, dan kontinuitas.

“Terkait hal itu, kami telah membuat business plan tahun 2018-2023. Dalam perencanaan bisnis itu, terdapat beberapa analisa dan evaluasi kinerja,” paparnya.

Adapun analisa dan evaluasi teknisnya, terang dia, secara umum penyediaan Sistem Penyediaan Air Mimum (SPAM) PDAM Tirta Bhagasasi dapat dilihat sebagai sistem yang utuh, mulai dari sumber air, sistem transmisi, pelayanan dan distribusi.

“Sedangkan secara teknis analisis, bertujuan mengukur potenis optimal yang bisa diperoleh melalui sistem eksisting yang terpasang. Dan pada akhirnya memperlihatkan seberapa besar potensi calon pelanggan yang masih dapat dilayani,” terangnya.

Dalam menjalankan perencanaan bisnisnya, beber dia, teknik yang akan diterapkan diarahkan kepada pencapaian, seperti pemantapan sistem, optimalisasi sistem, dan pengembangan sistem dengan menambah, dan mencari sumber air baru dan perluasan serta pengembangan jaringan.

“Adapun dasar analisa untuk optimalisasi sistem, adalah mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan kualitas air, menurunkan tingkat kehilangan air, meningkatkan pemakaian rata-rata, dan potensi penambahan pelanggan berdasarkan kapasitas produksi,” bebernya.

Dalam menjalankan perencanaan bisnisnya, tambah Usep, setiap perusahaan perlu mengetahui kondisi internal dan lingkungan organisasi, sehingga hasil dari analisis ini menjadi petunjuk bagi organisasi untuk menyusun strategi manajemen dalam mengambil kebijakan kedepan.

Maka, jelas dia, dalam penyusunan perencanaan bisnis, PDAM Tirta Bhagasasi melakukan kajian terhadap indikator peluang dan ancaman faktor internal dan eksternal.

Itu dilakukan untuk menetapkan langkah yang akan diambil. Dari analisis yang diakukan dan melihat kondisi internal dan eksternal PDAM Tirta Bhagsasi saat ini, maka berbagai langkah strategis yang akan dilakukan lima tahun kedepan.

Langkah strategis itu adalah meningkatkan cakupan pelayanan, yaitu memanfaakan peluang relatif tingginya pendapatan masyarakat dan tingginya minat berlangganan dari masyarakat yang belum menjadi pelanggan.

Lalu mengembangkan wilayah pelayanan dan yang belum terlayani, optimalisasi marketing di wilayah yang sudah terlayani, mengoptimalkan dan melakukan perbaikan terhadap unit produksi yang ada, dan menambah kapasitas produksi dan jaringan pipa transmisi atau distribusi. 

Kemudian meningkatkan pelayanan khususnya kualitas, kontinuitas, dan hubungan pelanggan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar bekerja secara profesional, melakukan peyesuaian tarif air minum secara berkala, dikarenakan meningkatnya biaya operasional seiring inflasi secara menyeluruh untuk menjaga kestabilan kinerja perusahaan.

Serta mendorong pemerintah daerah untuk menerbitkan peraturan daerah (Perda) yang mendukung bisnis PDAM, melakukan langkah-langkah yang tepat untuk penurunan kebocoran dan merupakan kegiatan rutin, melakukan sosialisasi kondisi PDAM kepada stakeholder termasuk masyarakat pelanggan dan non pelanggan.

“Jadi selama periode business plan 2018 sampai 2023, target penambahan sambungan langganan (SL) sebanyak 40.480 SL per tahun. Maka pada tahun 2023 jumlah SL eksiting dan penambahan menjadi 422.638 SL. Sesuai data yang ada hingga Juni 2018, jumlah pelanggan 231.143 SL,” jelasnya.

Kemudian, tukas Usep, rata-rata kehilangan air (non revenue water/NRW), ditargetkan menurun 1 - 1,5 persen pertahun. Sehingga pada tahun 2023 kehilangan air atau kebocoran menjadi 21,6 persen.

Secara nasional sesuai ketentuan Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), batas toleransi kehilangan air PDAM 20 persen.

“Sedangkan konsumsi pemakaian air rata-rata setiap pelanggan, ditargetkan 17,1 M3/SL/bulan sampai dengan tahun 2023. Sementara proyeksi penyesuaian tarif sebesar 20 persen setiap tiga tahun sekali. Maka tarif air rata-rata pada tahun 2023 adalah sebesar Rp 11.732/M3,” tukasnya.

Investasi untuk membangun sejumlah fasilitas IPA dan jaringan perpisaan sesuai pengembangan wilayah cakupan layanan hingga 2023, sudah barang tentu memerlukan modal atau investasi yang besar. Investasi ini dapat bersumber dari bantuan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.

“Kemudian, penyertaan modal dari pemerintah daerah sebagai pemilik PDAM, mengingat ketersediaan air bersih bagi masyarakat adalah kewajiban pemerintah,” ujar Usep. 

Kemudian sumber investasi dari internal PDAM sendiri, investasi kerjasama badan usaha swasta atau pihak ketiga yang saling menguntungkan, dan pemberian pinjaman dari lembaga perbankan, serta sumber-sumber investasi lainnya.

“Sebab tanpa investasi atau modal yang besar, pemenuhan ketersediaan air bersih bagi masyarakat terutama di perkotaan, sulit dipenuhi akibat faktor lingkungan perkotaan yang semakin rusak,” katanya.

Karena itu, dalam perencanaan bisnis, PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi menargetkan tahun 2018 biaya investasi Rp 331,403 miliar. Tahun 2019 sebesar Rp 195,833 miliar. Tahun 2020 senilai Rp 316,499 miliar.

Tahun 2021 direncanakan Rp 178,762 miliar. Tahun 2022 senilai Rp 187,760 miliar. Tahun 2023 sebesar Rp 140,803 miliar.

Maka,total investasi selama lima tahun dibutuhkan Rp 1,3 triliun, guna mencapi target yang direncanakan dalam business plan. Bahkan khusus di wilayah Kabupaten Bekasi, ditargetkan tahun 2023 setidaknya 70 sampai 80 persen jumlah masyarakatnya, sudah terlayani air bersih.

Diperkirakan, jumlah penduduk Kabupaten Bekasi tahun 2023 sebanyak 4,5 juta jiwa dengan laju pertambahan penduduk (LPP) saat ini 4,13 persen per tahun. (gun/JPN)

Komentar

JP-Torial Lainnya