ilustrasi

JPNews - Kepala Bidang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Dino Ardiana mengatakan selama ini Indonesia sudah masuk darurat kekerasan seks anak.

"Hampir setiap hari kekerasan seks anak terjadi dan terakhir prostitusi anak di Surabaya," katanya di Lebak, Kamis (22/2).

Kasus prostitusi anak di Surabaya terungkap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian setempat. Para korban seks anak-anak itu di antaranya terdapat warga Bandung.

Dia mengatakan mereka anak-anak yang diperdagangkan seks melalui media sosial (medsos) secara online, misaknya melalui twitter,facebook, BBM dan medsos lainnya.

Begitu juga kasus kekerasan seks terhadap anak terjadi di Provinsi Banten memakan korban 41 anak di Tangerang dan pelakunya WS alias Babeh.

Berdasakan data dari KPAI tahun 2015 tercatat 218 kasus dan selanjutnya tahun 2016 sebanyak 120 kasus dan terakhir 2017 mencapai 116 kasus.

Para korban kekerasan seks anak tersebut juga dialami di kota dan daerah sehingga perlu dilakukan pencegahan dini dengan melibatkan berbagai komponan masyarakat,pemuka agama, guru,pers dan pemerintah daerah.

"Kita berharap ke depan dapat membentuk relawan yang peduli terhadap kejahatan seksual agar bisa meminimalisasi kekerasan seks anak," katanya.

Menurut dia, selama ini kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia cukup tinggi karena hasil survei Komnas Perempuan secara daring dari 25.213 responden, sekitar 6,5 persen atau 1.636 orang, mereka pernah diperkosa.

Namun, pihaknya menyayangkan sekitar 93 persen para korban kejahatan seks anak tidak melaporkan.

"Semua para korban kekerasan dan pelecehan seksual anak itu perlu dilakukan terapi fsiokologi untuk mengembalikan trauma dan mendapat pembinaan itu," katanya.

Ia mengatakan, pemerintah tentu perlu memberikan hukuman berat terhadap pelaku kejahatan seks anak.

Begitu juga media sosial yang memiliki konten situs pornografi dilakukan penghapusan.

Saat ini, medsos masih banyak terdapat konten pornografi sehingga dapat menimbulkan kemerosotan moral.

Sebagian besar kasus kejahatan seksual yang menimpa anak-anak dilakukannya setelah terinspirasi dari situs pornografi twitter, Google dan Youtube.

"Kami minta semua konten situs pornografi dihapus," katanya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak Ratu Mintarsih mengatakan jumlah kekerasan seks anak di Lebak tahun 2017 sebanyak 28 kasus dan meningkat lima dari tahun 2016 yakni 23 kasus.

Pelaku kejahatan kekerasan seks anak adalah orang dekat, diantaranya pelakunya seorang kakek, bapak tiri, kakak ipar dan saudara sepupu. Selain itu tetangga dan teman kekasih.

Dia menambahkan meningkatnya kasus kejahatan seksual anak akibat perkembangan penggunaan teknologi media internet juga lingkungan yang mempengaruhi terhadap terbentuknya karakter anak.

"Kami minta orang tua agar mengawasi anak-anak mereka baik pergaulan maupun di rumah guna mencegah korban kekerasan anak," tukasdia. (ant/mam)

Komentar

Nasional Lainnya