TOP 0 Netizen

Ilustrasi

JPNews - Berakhirnya Piala Presiden 2018 yang mengeluarkan Persija sebagai juara ternyata menyimpan banyak cerita. Salah satunya adalah yang saat ini ramai diperbincangkan oleh warganet. Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang hendak turun untuk ikut memberikan selamat bersama Presiden Jokowi ditahan oleh Paspampres di tribun VIP.

Warganet pun mulai nyinyir dan membandingkan apa yang dialami Anis dengan apa yang terjadi tahun 2016. Saat itu Persib menjadi juara di SUGBK, dan nampak beberapa tokoh mendampingi Jokowi di atas podium penyerahan trofi. Ahmad Heryawan, Ridwan Kamil, Basuki Tjahja Purnama adalah tokoh politik yang sekaligus menjadi kepala daerah masing-masing yang ikut naik ke podium kehormatan saat itu.

Hal ini pun menjadi objek politik bagi sebagian kelompok. Buat penulis sendiri, hal seperti ini sepertinya bukanlah hal yang aneh, cenderung biasa terjadi. Namun yang biasa inilah yang menjijikan beberapa pihak termasuk penulis sendiri. Sepak bola dan politik adalah dua dunia yang berbeda. Sepak Bola adalah olahraga, tentang kerja sama yang didalamnya terdapat unsur-unsur permainan fair yang sangat tegas dan jelas. Sementara politik adalah kerja sama yang ketentuan fairnessnya tidak jelas sama sekali. Semua hal bisa menjadi benar dalam dunia politik ataupun sebaliknya. 

Karena itulah menarik-narik politik ke dalam dunia sepak bola adalah hal yang menjijikan. Dari kasus kemarin, beberapa oknum warganet yang kontra dengan pemerintahan saat ini akan terus membandingkan perbedaan perlakuan terhadap Anis, meski panitia berkali-kali secara tegas membantah tudingan itu. Hal ini pastinya bisa menjadi senjata empuk bagi mereka yang sejak awal menyatakan diri sebagai oposisi. 

Selain tragedi Anies yang disangkut pautkan dengan politik. Penulis mencatat ada hal yang sepertinya tidak wajar disampaikan dalam pembukaan dan penutupan piala presiden kemarin. Pembawa acara dalam dua agenda tersebut selalu mengatakan bahwa piala presiden tidak menggunakan dana APBN. Padahal pecinta sepak bola dimana pun pasti tahu, sejatinya kompetisi sepak bola di Indonesia tidak pernah menggunakan APBN untuk operasionalnya. Operator kompetisi selalu menggandeng sponsor dan menjadikan nama sponsor sebagai nama liga. Lalu entah untuk apa pembawa acara sampai dua kali menyampaikan sumber pendanaan kompetisi pra musim kemarin. 

Tidak hanya sampai disitu saja, opini warganet pun semakin liar ketika penulis membaca sebuah tulisan yang menyatakan penghargaan terhadap Bobotoh adalah sebuah rayuan dari ketua panitia, yang notabene seorang politisi, untuk Pilkada Jabar 2018. Opini-opini di atas sepertinya terlalu jauh dan liar, tapi seperti itulah kenyataan yang terlihat. 

Tapi mari kita lepas sejenak polemik warganet. Nyatanya sepak bola memang bisa mengantar siapapun pada jabatan politik tertinggi. George Weah adalah contoh yang paling baru. Eks pemain Milan tersebut baru saja menjadi presiden di negaranya, Liberia. Di balik aktifitas politiknya, semua penggila bola pasti tahu siapa Weah. 

Selain itu, Silvio Berlusconi yang diketahui sebagai pemilik klub raksasa AC Milan, berhasil menjadi perdana menteri Italia. Jabatannya bahkan dinyatakan sebagai jabatan terlama dalam sejarah republik Italia. Statusnya sebagai pemilik AC Milan disinyalir membantunya mempermudah jalan menuju kursi Perdana Menteri. Bahkan untuk mempermudah karir politiknya, ia mendirikan sebuah partai Forza Italia. Nama yang juga selalu menjadi slogan kala Milan atau timnas Italia bertanding.

Dari dua kasus tersebut kita bisa lihat memang sepak bola bisa mengantarkan orang yang ada di dalamnya menjadi mudah mencapai tujuan politik. Tapi yang harus diingat oleh para politisi si kulit bundar adalah ketika mereka salah mempolitisir sepak bola. Justru akan menjadi blunder dan bisa jadi gol bunuh diri bagi mereka.

Karena kesalahan itu bisa memicu antipati para pecinta bola itu sendiri. Bagi mereka yang benar-benar mencintai sepak bola, dunia kulit bundar adalah bahasa hati. Bukan tafsiran liar politik apa pun. Jadi sebaiknya mereka yang mempolitisir sepak bola harus berhati-hati, karena jumlah pecinta dan pendukung sepak bola jumlahnya berkali-kali lipat dibanding pendukung partai politik. Salah niat, kalian akan dibabat! 

Oleh: Imam Maula Fikri, Bobotoh, dan penikmat sepak bola nasional

Komentar

Netizen Lainnya