Bupati Parosil Mabsus saat menyambut peserta audiensi, Rektor Jepang Yasuo Kawawaki, Masahiko Murata, Wakil Rektor Unila Prof. Bujang Rahman, di Pekon Sebarus Kecamatan Balikbukit, Kamis (8/2). Dok JPNews

JPNews -  Bupati Lampung Barat (Lambar) Parosil Mabsus menginstuksikan BPBD agar bekerja sama dengan literasi daerah yang hadir memberikan pemahaman pergerakan pengetahuan dan wawasan tentang imitasi bencana.

Hal itu dikatakannya saat membuka secara resmi Sosialisasi Rawan Bencana Tahun 2018 di  Balai Pekon Suka Maju Pekon Giham, Kecamatan Sekincau Rabu, (31/10).

Parosil menyontohkan, beberapa waktu yang lalu negara Jepang belajar ke Lambar.

Terkait gempa Liwa tahun 1994 dengan kekuatan 6,4 SR. Meski kekuatannya 6,4 SR, tetapi tidak menimbulkan banyak korban jiwa, tidak banyak rumah yang rubuh.

Dan ternyata, setelah para mahasiswa meneliti dan melihat langsung, terungkap jika bangunan rumah di Liwa atau lamban Lampung didirikan dengan strukturnya tahan gempa, kebanyakan rumah saat itu hanya saja berubah posisi.

"Artinya kalau kondisi bangunan seperti itu masyarakat yang menempati kediaman tersebut tidak terlalu panik karena bangunan tersebut terbuat dari kayu itu menurut analisa penelitian Jepang," terangnya.

Diketahui, gempa bumi Liwa yang terjadi pada 15 Februari 1994 silam, diteliti mahasiswa dari Universitas Lampung (Unila). 

Bahkan, salah seorang rektor dari universitas di Jepang, Yasuo Kawawaki tampaknya juga bakal berkecimpung dalam penelitian tersebut.

Hal itu terungkap saat Pemkab Lambar menggelar audiensi dengan Peserta ACP Delegasi Universitas Unila di Aula Ratu Piekulun RSUD Alimudin Umar Liwa, Kamis (8/2).

Sebelumnya, Bupati Lambar Parosil Mabsus menyambut Masahiko Murata, Wakil Rektor Unila Prof. Bujang Rahman, Prof. Cipta Ginting, Dekan Fakultas Teknik Unila Prof. Suharno dan sejumlah mahasiswa Unila di Pekon Sebarus, Kecamatan Balikbukit, Kamis (8/2) pagi.

Wabup, Mad Hasnurin menyebut, kedatangan mahasiswa ini untuk membahas manajemen penanganan gempa di Liwa pada tahun 1994.

Ia memaparkan, gempa bumi Liwa terjadi 15 Februari 1994 dengan kekuatan 6,5 skalarichter, hingga mengakibatkan kerusakan parah di Liwa. Gempa guncangan tektonik yang berpusat di Sesar Semangko, Samudera Hindia itu mengakibatkan hancurnya 75 ribu rumah penduduk. Dampak gempa pun masih terasa sampai 40 kilometer dari ibu kota kecil ini.

“Korban jiwa 207 jiwa dari beberapa desa dan kecamatan di lampung barat tewas, sementara jumlah korban yang terluka hampir mencapai 2.000 orang,” ujarnya.

Penelitian gempa tersebut diakui juga sejalan dengan program kabupaten siaga di Lambar. Langkah ilmiah yang dilakukan mahasiswa itu diharapkan menjadi pendukung pemerintah dalam mewujudkan penyusunan kebijakan dan pelaksanaan operasional penanggulangan bencana daerah secara terarah dan terpadu.

"Terus kepada mahasiswa-mahasiswa untuk melaksanakan penelitian tentang penanganan gempa Liwa 1994 ini dengan sungguh-sungguh dan seksama. Semoga kedatangan dan kerja sama ini dapat memberikan motivasi dalam mewujudkan kabupaten tangguh bencana," pungkas Mad Hasnurin

(mst/JPN)

Komentar

Lampung Lainnya