Dirut RSUD R. Syamsudin, S.H. Kota Sukabumi, dr. Bahrul Anwar

JPNews - Menghadapi aturan terbaru dari BPJS tentang rujukan berjenjang, RSUD R. Syamsudin, S.H. atau dikenal dengan sebutan Rumah Sakit Bunut menyiapkan berbagai inovasi pelayanan untuk meningkatkan jumlah pasien. Dengan adanya sistem rujukan berjenjang, pasien BPJS yang membawa surat rujukan dari puskesmas tidak boleh langsung ke RS Bunut sebagai rumah sakit tipe B, tapi harus berjenjang ke rumah sakit tipe D dan C dulu.

"Aturan rujukan berjenjang itu secara langsung menurunkan jumlah pasien rawat jalan di poliklinik rumah sakit kami karena berpindah ke rumah sakit tipe D dan C. Karena itu kami akan meluncurkan berbagai inovasi pelayanan untuk mengantisipasi aturan tersebut," kata Dirut RSUD R. Syamsudin, S.H. Kota Sukabumi, dr. Bahrul Anwar, Kamis (18/10).

Inovasi yang akan segera diluncurkan adalah penambahan jam layanan rawat jalan. Dengan sistem ini, layanan rawat jalan bisa dibuka hingga sore hari. Sehingga jika ada pasien non-BPJS dari puskesmas membutuhkan penanganan khusus, tim medis RS Bunut masih bisa menerimanya. Selain itu, RS Bunut juga berencana akan mengoperasikan sistem  pelayanan eksekutif di luar pasien BPJS bagi kalangan ekonomi menengah ke atas.

"Untuk melayani pasien non-BPJS, kami telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan asuransi kesehatan swasta. Kami akan  membuka jaringan yang lebih luas dengan berbagai perusahaan," ujar Bahrul. 

Rumah sakit yang dipimpinnya, lanjut dia, juga akan memberlakukan sistem pendaftaran online untuk memudahkan para pasien yang akan berobat ke poliklinik atau fasilitas perawatan lainnya. Bahrul memperkirakan, fasilitas pendaftaran online ini sudah beroperasi pada awal tahun 2019.

Bahrul mengakui, sejak diberlakukan aturan rujukan berjenjang, jumlah pasien rawat jalan menurun drastis. Pada hari pertama aturan tersebut diberlakukan, jumlah pasien di poliklinik yang biasanya 800 orang turun menjadi 250 orang. Sebagian besar pasien BPJS yang membawa rujukan dari puskesmas berobat ke rumah sakit tipe D seperti RS Al-Mulk dan RS Rido Galih atau rumah sakit tipe C seperti RS Kartika, RS Assyifa, dan RS Bhayangkara.

"Kami ikut memikirkan nasib pasien yang membutuhkan penanganan medis di rumah sakit dengan peralatan yang lengkap dan dokter spesialis. Mereka harus bolak-balik ke rumah sakit sebelum datang ke rumah sakit tipe B," ujarnya.

Menurunnya jumlah pasien, lanjut dia, tentu berdampak pada kondisi keuangan rumah sakit. Selama ini RSUD R. Syamsudin, S.H. memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Sukabumi dalam jumlah yang cukup signifikan. Dengan demikian, kata Bahrul, aturan rujukan berjenjang dapat menurunkan PAD. (Gio)

Komentar

Jabar Lainnya