TOP 0 Bola



JPNews - Sepak bola kita kembali berduka, Haringga Sarilla, supporter Persija harus meregang nyawa di sekitar Stadion GBLA. Identitasnya sebagai The Jak diketahui oleh sebagian Bobotoh dan kemudian menjadi bulan-bulanan. Siapa pun korbannya saya ucapkan duka cita, karena sepak bola bukanlah malaikat pencabut nyawa. 

Perseteruan pendukung Persib Bandung, baik itu Bobotoh, Viking, Bomber dan lain sebagainya, dengan pendukung Persija The Jak, memang sudah lama terjadi. Saya rasa, tidak kurang dari 15 tahun kedua kelompok ini berseteru. Berbagai macam ketegangan di dalam stadion, ataupun luar stadion sudah sering terjadi. Bahkan kematian, maaf bukan tidak menghargai korban, terjadi beberapa kali ketika perseteruan dua kelompok terjadi. 

Haringga bukanlah korban pertama. Dari kubu Jakarta, Harun Al-Rasyid Lestaluhu meregang nyawa di tol Palimanan. Saat rombongan The Jak pulang mendukung Persija di Solo pada tahun 2016. Bentrok antara pendukung yang melakukan perjalanan dengan kelompok pendukung pemilik wilayah, sekali lagi bukan memaklumi, sudah sering terjadi. 

Termasuk yang dialami penulis ketika ikut menyaksikan final ISL 2014 di Palembang. Beberapa bus rombongan Bobotoh diserang di tol Jakarta-Tangerang. Kaca samping bus pecah, pada beberapa bus, kaca depan retak. Beruntung tidak terjadi duel di jalan tol saat itu. Ketika pulang dari Palembang, satu bis rombongan Bobotoh tertinggal dan kembali diserang di tol dalam kota. Saat itu terjadi bentrok, karena yang berada di dalam bis turun, waktu kejadian dini hari.

Berbeda dengan korban yang jatuh ketika tour suporter, kematian di dalam atau lingkungan stadion lebih banyak dan mengerikan. Almarhum Haringga adalah salah satunya. Pada 2012, Rangga dan Dani Maulana meregang nyawa karena nekat menonton langsung ke GBK saat Persija melawan Persib. Saat pertandingan berlangsung, gelagat mereka tercium. Ia pun dimassa, dikejar hingga keluar stadion dan meninggal.  Musim lalu, 2017, Ricko Andrean Maulana meninggal karena dianggap The Jak oleh rekannya sendiri.

Ketika jeda istirahat, Ricko melepaskan atribut suporter. Tak lama ia mendengar ribut di tribun. Ketika didatangi ia malah dikira oknum The Jak yang ikut hadir ke GBLA, akhirnya anak yatim itu pun meregang nyawa. Dan terakhir, almarhum Haringga yang nekat datang ke Bandung. Padahal dari penuturan orang tuanya, ia pamit untuk ke rumah temannya. 

Dibalik semua kejadian, dan tanpa menyalahkan siapapun, faktor kepatuhan dan kedewasaan oknum suporter sangat diperlukan disini. Semua pendukung kedua klub, pasti sudah tau, ketika laga panas ini digelar, maka supporter tim tamu pasti dilarang datang oleh pihak berwajib. Karena sampai saat ini upaya damai masih belum berbuah hingga akar rumput. Upaya tersebut dilakukan sejak 2014 lalu, antara pentolan dua kelompok dihadapan Kapolda masing-masing wilayah. Kedua pimpinan suporter pun pernah tampak akrab, tapi sayang ini tidak sampai ke akar rumput.

Butuh kedewasaan yang lebih untuk bisa sampai di situ. Menyitir perkataan dari Ketua Viking Persib Club (VPC), Heru Joko, bahwa membiarkan perdamaian mengalir adalah cara terbaik. Karena yang paling sering merasakan ketegangan itu adalah anggota di tingkat bawah, atau di wilayah perbatasan. Namun sayang, usai kejadian yang menewaskan almarhum Haringga, beberapa netizen merespon berlebih. 

Bahkan beberapa diantaranya meminta salah satu atau kedua kelompok suporter dibubarkan. Padahal saya tahu, yang menulis itu bukanlah pecinta bola. Belum lagi nada-nada miring dan provokatif yang menyudutkan satu pihak. Seharusnya hal ini tidak terjadi. Postingan-postingan provokatif harus dihentikan, agar tidak terus menyalakan api kebencian antar kedua kelompok.

Kemudian memadamkan upaya perdamaian antar keduanya. Berkomentar lah dengan bijak dan baik atas apa yang terjadi, jangan seolah mau menjadi pahlawan tapi lupa diri. Seperti yang dilakukan ex Menpora, Roy Suryo yang coba menyatukan The Jak dan Bobotoh dalam satu stadion tetapi malah keburukan sang Menpora yang muncul dan jadi cemoohan. Fanatisme itu butuh kedewasaan dan akal sehat. Karena sepak bola tidak mengajarkan kebencian apalagi sampai menghilangkan nyawa!.

(Imam Maula Fikri)

Komentar

Bola Lainnya