TOP 0 Edukasi

Mahasiswa profesi ners angkatan VII IMDS Cikarang saat seminar nasional dan workshop, Sabtu (8/9). Foto: Meko Andika for JPNews

JPNews - Mahasiswa profesi ners angkatan VII Institut Medika Dokter gigi Suherman (IMDS) Cikarang, Bekasi, Jawa Barat gelar seminar nasional dan workshop, Sabtu (8/9).

Yang menarik, tema yang diusung tengah booming, banyak diperbincangkan.

Ya. Seminar mengambil tema kegawatdaruratan kardiovaskular pre hospital. Sedikitnya 250 peserta menghadiri seminar ini dengan berbagai kalangan dan lapisan masyarakat dari siswa SMK kesehatan, perawat, bidan, dokter dan masyarakat umum baik yang sudah bekerja ataupun masih pelajar.

Seminar dihadiri Rektor, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Asep Sardi; Ketua Program Studi (KaProdi) Ners  Angga Saeful Rahmat dan Rektor IMDS Triseu Setianingsih beserta jajarannya sekaligus membuka  seminar.

Triseu mengapresiasi dan setuju dengan tema seminar kali ini. Dia menyabut tema itu ramai dibicarakan masyarakat terkait seringnya terjadi serangan jantung atau kecelakaan di berbagai waktu dan tempat.

"Sebelumnya kami (pihak IMDS) menyarankan setiap mahasiswa yang mengadakan seminar agar mengambil tema yang memang lagi booming dan seminar kali ini sangat tepat mengambil tema ini," ungkap Triseu.

Diketahui, panitia seminar pihaknya mengundang narasumber ahli di bidang kegawatdaruratan dan Spesialis Medikal Bedah dari Team Trainer Picu dan Icu Hermina group yang membawakan materi tentang kegawatdaruratan kardiovaskular, Seven Sitorus.

Kemudian dari Pengurus PPNI Komisariat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) juga pendiri EM Nur Indonesia (Lembaga Pelatihan Kegawatdaruratan) yang membawakan materi tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) Purwo Suwignjo.

Dalam materinya Seven Sitorus menyampaikan bahwa penyebab kematian tertinggi di dunia adalah serangan jantung.

Sementara Purwo mengungkapkan dalam materinya mengatakan bantuan hidup dasar hanya tak hanya dimiliki tenaga kesehatan saja. Akan tetapi semuanya, siapa saja. Contoh cleaning servis, satpam ataupun umum, setidaknya ada satu orang yang bisa melakukan BHD dalam satu keluarga, terutama yang ada lansia di dalamnya.

"Jadi jika ada yang pingsan, mininmal yang dilakukan anda (yang membantu) dan orang sakit aman, itu yang pertama, kedua cek nadi dengan cara pegang jakun (tonjolan dileher depan) lalu geser ke samping lalu rasakan apakah nadi teraba atau tidak ini pada orang dewasa. Dan di ketiak pada anak di bawah  satu tahun, jika tidak maka lakukan kompresi (tekan) jantung dengan kedalaman 5-6 cm selama 30 kali lalu beri nafas buatan 2 kali yang sebelumnya anda memanggil bantuan Medis. lakukan terus hingga bantuan tiba," ujar Purwo.

(mek/mst/JPN)

Komentar

Edukasi Lainnya