JPNews - Akhirnya Tim Nasional Indonesia U-16 berhasil memenangkan piala AFF. Dengan digondolnya piala AFF U-16 kali ini, Indonesia mendapatkan salah satu kado terbaik dari para pemudanya menjelang hari kemerdekaan. Terima kasih Garuda Muda!

Hasil ini mungkin sudah terprediksi oleh sebagian orang. Hal ini tak lepas dari penampilan impresif para pemain muda sejak babak grup. Mampu menyapu bersih semua pertandingan, meskipun sempat kerepotan saat bertemu Vietnam. Di semifinal, Indonesia mengalahkan rival abadi, Malaysia, dengan skor tipis 1-0, hingga bertemu Thailand di final.

Di pertandingan akhir, Indonesia pun terbilang cukup perkasa. Hanya saja kehilangan koordinasi pada menit akhir, membuat pertandingan final lebih panjang. Permainan yang diperagakan oleh anak asuh Fachri Husaini memang selalu menghibur para pecinta sepak bola di tanah air. 

Tak hanya stamina yang kuat, kemampuan individual para pemain pun bisa merepotkan lawan. Kolektifitas para pemain junior ini juga ikut berperan penting. Namun tiga poin itu, terkadang hanya berlaku ketika mereka berusia belia. Jarang ada yang berlanjut hingga jenjang senior, dan menghasilkan prestasi. 

Kita ingat Evan Dimas dkk ketika memenangkan Piala AFF U-19 di venue yang sama pada 2013 lalu. Saat itu, Evan Dimas dkk seketika menjadi idola baru. Lalu digadang-gadang akan menjadi generasi baru Timnas senior dan kembali membawa kejayaan. Namun, di tingkat lebih senior, generasi Evan Dimas ini belum juga menunjukan magisnya dalam mendatangkan prestasi sepak bola Nasional.

Hal ini ditakutkan juga akan dialami oleh Bagus Kahfi dkk, para punggawa yang baru saja memberikan Trofi bagi Indonesia. Regenerasi di tingkat bawah, sudah bisa dikatakan berjalan. Baik atau tidaknya, mungkin belum bisa dipastikan melalui raihan di AFF ini. Namun dua trofi AFF di 2013 dan 2018 adalah bukti sahih jika Negara kita tidak kekurangan bakat-bakat muda potensial.

Lalu apa yang salah dari merosotnya performa mereka ketika senior? Banyak faktor. Perbedaan pelatih mungkin menyebabkan turunnya performa mereka. Bisa jadi! Hal ini berlaku di beberapa klub profesional atau timnas negara lain di belahan dunia mana pun. Tapi apakah itu layak menjadi alasan? Tentu saja tidak.

Kasus timnas Spanyol di PD 2018 lalu, ditinggal Lopetegui menjelang kick off pertandingan pertama adalah contoh baiknya. Hierro yang ditunjuk menggantikan Lopetegui nyatanya bisa bermain hingga babak 16 besar. Dalam hal ini, sepertinya Spanyol sudah punya tim yang solid dan pakem permainan yang sudah difahami semua pemain di setiap tingkatan, meski akhirnya harus angkat koper lebih awal.

Hal itu mungkin berpengaruh besar pada tim negeri matador. Di beberapa timnas dan klub di luar negri pun, pembentukan tim tidak dilakukan dalam semalam. Itulah yang biasanya tidak dilakukan di Indonesia. Entah dengan alasan apa, terkadang pembentukan tim di negara kita dilakukan dalam kurun waktu yang terhitung mepet dengan kejuaraan yang akan diikuti, khusunya di level senior. 

Kebiasaan ini membuat permainan tim tidak terbentuk dengan sempurna, apalagi kita belum punya pakem permainan. Belakang baru dikenalkan soal Filanesia, Filosofi Sepak Bola Indonesia. Selain itu, kemampuan pemain muda pun terkadang hilang ketika memasuki usia senior.

Hal ini kerap terjadi, karena klub-klub di Indonesia jarang sekali memberikan menit bermain pada pemain muda. Padahal menit bermain adalah hal yang penting bagi perkembangan pemain muda. Kita bisa lihat para pemain Prancis, dan Belgia. Rata-rata usia mereka masih muda, mereka berhasil membawa negara mereka ke puncak kejayaan. Mereka berhasil melakukan regenerasi, karena para pemain menjadi pemain penting di level klub. 

Sepertinya di Indonesia hal ini belum bisa dilakukan sepenuhnya. Banyak kepentingan yang lebih kuat, ketimbang memberikan kepercayaan bagi pemain muda. Industri sepak bola sering menggelapkan para pemangku kebijakan di ranah ini, baik level federasi ataupun klub. Sehingga mudah terjadi intervensi dan mengenyampingkan talenta yang ada. 

Kita berharap, dengan torehan dua trofi dari para generasi muda, federasi dan klub mulai berani membenahi diri. Tidak lagi hanya meributkan industrialisasi sepak bola, tetapi juga harus mengedepankan kejayaan bagi sepak bola kita. Sekali lagi, raihan juara malam ini, menunjukan bahwa Indonesia tidak pernah kehabisan bakat dalam Sepak Bola.

(Imam Maula Fikri)

Komentar

Bola Lainnya