JPNews - Pekan ini pecinta sepak bola Indonesia gagal menyaksikan laga panas Liga 1 musim 2018 antara Persija melawan Persib di SUGBK. 

Pertandingan pekan ke-6 itu harus gagal karena alasan izin yang tidak dikeluarkan oleh Polda Metro Jaya. 
Alasan Polda tidak mengeluarkan izin tersebut karena tiga hari pasca pertandingan merupakan hari buruh atau May Day. 

Reaksi pun banyak bermunculan, terutama dari kubu pendukung Persib. Banyak yang mempertanyakan dan berkomentar tentang gagalnya pertandingan ini. Alasan Polda Metro Jaya tidak memberikan izin juga banyak dipertanyakan. 

Kabid Humas Polda Metro Jaya menyatakan dalam banyak rilis media bahwa mereka sedang berkonsentrasi pada pengamanan Hari Buruh, sehingga meminta pertandingan diundur setelah peringatan hari tersebut. Padahal, tidak jauh dari Jakarta, tepatnya stadion Pakansari Bogor, akan digelar pertandingan internasional dalam ajang PSSI Anniversary Cup 2018. 

Timnas Indonesia akan berlaga melawan Bahrain pada tanggal 27 April petang, yang diawali laga Uzbekistan lawan Korut pada sore harinya. Kemudian Indonesia akan kembali berlaga melawan Korut pada 30 April atau tepat satu hari sebelum May Day. Kemudian terakhir Indonesia akan menjamu Uzbekistan pada tanggal 3 Mei 2018. Hal ini semakin memicu keheranan yang muncul di sebagian besar kalangan pecinta sepak bola Bandung.

Pasalnya, pengunduran dengan alasan tidak keluarnya izin ini muncul setelah ramai berita Manajemen Persija bersurat pada PSSI. Gede Widiade selaku orang nomor satu di Persija meminta pada PSSI agar dua pemain andalan mereka, Rezaldi Hehanusa dan Andritany bisa tampil saat Persija menjamu Persib. Namun sayang permintaan itu ditolak dan PSSI hanya memberikan izin pada dua pemain yang dipanggil Timnas tersebut untuk memperkuat Persija di ajang Internasional, AFC Cup. Inilah yang kemudian memperkuat dugaan publik sepak bola Bandung bahwa pengunduran jadwal ini hanyalah settingan sebagian oknum yang tidak diketahui.

Apalagi turut beredar pula di media sosial, salinan surat permintaan Panpel Persija kepada PT.LIB untuk pengunduran jadwal yang tertanggal 20 Mei 2018. Artinya 8 hari sebelum pertandingan panas ini dimulai, Panpel Persija memang sudah berniat untuk mengundurkan jadwal pertandingan semestinya. Akhirnya surat izin dari kepolisian yang seharusnya sudah dikantongi Panpel sejak jauh-jauh hari pun tidak dimiliki Panpel Persija, hingga akhirnya Polda ikut berkomentar. 

Jika benar dugaan sebagian besar publik sepak bola Bandung dan Jawa Barat, pengunduran ini adalah permainan sebagian oknum, maka akan sangat disayangkan. Di tengah gaung reformasi PSSI pasca lengsernya rezim Nurdin Halid ternyata masih ada dugaan upaya culas dari para pelakunya. Karena itu kemurnian dan fairness sepak bola kembali tercoreng oleh ulah oknum petinggi sepak bola itu sendiri.

Bukan Cuma Sekali di Musim Ini

Adanya keputusan-keputusan aneh dalam penyelenggaraan Liga 1 musim 2018 bukanlah kali ini saja terjadinya. Beberapa waktu lalu kita tahu supporter Arema FC merangsek ke tengah lapangan saat timnya ditahan imbang Persib di Kanjuruhan Malang. Namun Komdis PSSI 'hanya' menjatuhkan sanksi denda sejumlah 300 juta, yang terbagi untuk Panpel serta manajemen tim Singo Edan.

Serta larangan supporter mengisi sebagian Tribun di stadion Kanjuruhan dalam laga Arema untuk beberapa pertandingan. Sanksi ini kemudian mencuatkan pertanyaan, kenapa hanya satu sisi tribun saja yang harus kosong. 

Mungkin sanksi seperti ini jarang sekali diterapkan, jika tidak mau dikatakan tidak pernah, dalam persepak bolaan kita. Selama ini yang penulis tahu, jika terjadi kerusuhan seperti itu, maka sanksi pertandingan tanpa supporter siap menanti dan tentunya dengan nominal denda yang sangat besar.

Sebelum insiden itu, pelatih Persib, Mario Gomez juga pernah mengancam PSSI akan melaporkan buruknya sepak bola kita pada FIFA. Hal ini tak lepas dari protes dan tandukan kapten Persib, Supardi, pada wasit saat Persib mempecundangi Mitra Kukar di GBLA. 

Saat itu Supardi diberikan kartu kuning karena protes keras dan tandukannya. Namun sayang, Komdis PSSI juga malah menjatuhkan sanksi berupa denda 50 juta rupiah serta larangan bermain dalam empat laga Maung Bandung untuk sang pemain.

Hal ini tentu membuat pelatih dan supporter meradang. Hingga muncul spekulasi jika Supardi yang menjadi pemain inti dalam pasukan Gomez sengaja dibuat tidak bisa main saat melakoni pertandingan Persija vs Persib. Kemudian PT.PBB pun mencoba melindungi pemainnya dengan melakukan banding pada Komisi Banding (Komding) PSSI. 

Sialnya yang didapat bukanlah apa yang diharapkan berupa keringanan, justru sanksi Supardi semakin berat. Ia harus menambah denda yang harus dibayar menjadi 75 juta rupiah. 

Dugaan Intervensi Orang-Orang Kuat

Kasus-kasus di atas tidak terjadi begitu saja, sebab melibatkan organisasi-organisasi besar dalam sepak bola. Sebut saja tim manajemen, PSSI sebagai induk sepak bola, PT. liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator, bahkan hingga instansi Kepolisian. 

Maka akan lumrah jika kemudian muncul spekulasi liar di masyarakat sepak bola jika kasus-kasus itu 'ditangani' orang-orang besar dan berpengaruh.

Sebelum Komdis menjatuhkan sanksi pada Arema FC, muncul kekhawatiran bahwa PSSI tidak akan fair memberikan sanksi pada tim Singo Edan. 

Sebab salah satu petinggi Arema, Iwan Budianto, juga duduk di pucuk pimpinan induk sepak bola kita. Meski hal ini sempat dibantah oleh Ratu Tisha selaku Sekjen, namun nyatanya sanksi yang diberikan tetap menimbulkan tanya. 

Pada kasus pengunduran jadwal tanding Persija vs Persib pun dugaan serupa muncul. Pembina Persija saat ini adalah Komjen Polisi Syafrudin yang juga menjadi Wakapolri, pucuk pimpinan Kepolisian Indonesia. Dugaan pembina Persija turut bermain dalam permohonan Panpel Persija meminta pengunduran jadwal menjadi menguat di lini masa masyarakat sepak bola kita. 

Kondisi-kondisi seperti di atas tentunya bukanlah kondisi yang sehat bagi sepak bola kita. Sebab intervensi apa pun dalam sepak bola hanya akan menghancurkan nilai luhur, seperti sportifitas, yang diajarkan olahraga tersebut.

Respon yang ada dan yang ditunggu

Kembali pada permasalahan Persija vs Persib, akhirnya masyarakat sepak bola Bandung pun menjadi gerah. Jelas terlihat di dunia maya panasnya suasana ini dengan ramainya #Persijataktukalah di lini masa. Hal ini menjadi buruk di tengah upaya perdamaian antara Viking dan The Jak yang digaungkan sejak 2014 lalu, atau bahkan sebelumnya. 

Tak hanya itu, para pendukung Persib saat ini pastinya sedang menanti langkah dari PT. PBB selaku naungan tim Persib. 

Pasalnya adanya perubahan jadwal ini membuat Persib harus melakoni dua laga yang tidak mungkin. Persija mengumumkan pertandingan diundur menjadi tanggal 3 Mei 2018, sementara jadwal reguler yang dikeluarkan PT. LIB, pada esok harinya, 4 Mei 2018, Persib harus bermain melawan Madura United di pulau garam. Ini yang akan ditunggu oleh para pecinta sepak bola Bandung dan Jawa Barat. 

(Imam Maula Fikri)

Komentar

Netizen Lainnya