SUKABUMI, JPNews - Dua ekor macan tutul (Panthera Pardus Melas) terekam kamera pengintai di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya di zona inti dengan ketinggian 1.586 mdpl berjarak sekitar 2,4 kilometer dari kawasan wisata Situ Gunung, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Kepala Resort Pengelola Taman Nasional (PTN) Kadudampit, Asep Suganda menuturkan, dua ekor macan tutul itu terpantau pada 4 Januari 2022 lalu. Awalnya petugas memantau terdapat tanda keberadaan macan tutul lewat jejak cakaran dan kotoran pada bulan Desember 2021 lalu.

"Akhirnya dipasang beberapa kamera pengintai atau camera trap milik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP)," tutur Asep saat dikonfirmasi,  Minggu (13/2/2022).

Menurutnya, dari hasil tangkapan camera trap tersebut akhirnya diketahui predator puncak di hutan TNGGP itu turun untuk mencari sumber makanan.

“Ada dua kemungkinan kenapa macan tutul ini turun dari area hutan dengan mdpl yang lebih tinggi ke kawasan yang lebih rendah. Pertama karena habitat dan ekosistem yang masih terjaga sehingga satwa lain mangsa macan tutul berada di zona tersebut," terang Asep.

"Artinya rantai makanan yang ada masih sangat terjaga. Dengan adanya mangsa, sehingga mengundang macan tutul untuk berburu di kawasan tersebut. Untuk kemunculan di lokasi sekarang itu sangat jarang, lebih sering muncul di kawasan Pondok Halimun,” urai Asep menambahkan.

Lanjutnya, macan tutul di ekositem asalnya dengan mdpl yang lebih tinggi terganggu akibat faktor alam seperti pohon tumbang atau longsor, atau akibat perburuan liar.

"Sejauh ini perburuan liar di kawasan TNGGP, terutama di Resort PTN Situ Gunung sudah sangat jarang terjadi. Baik perburuan liar macam tutul maupun satwa lainnya yang ada di hutan TNGGP seperti rusa, kijang, landak, babi hutan, elang jawa, lutung, monyet dan sebagainya," ungkap Asep.

Ia menambahkan, kedua macan tutul yang tertangkap camera trap diperkirakan berjenis kelamin betina dan kalau melihat ukurannya itu sudah dewasa.

"Kesimpulan sementara macan tutul sedang mencari mangsa, karena di lokasi yang sama juga ada satwa lain seperti landak, rusa, musang dan lainnya ikut tertangkap camera trap. Tentu menjadi kabar gembira karena menandakan habitat dan ekosistemnya masih terjaga,” ucap Asep.

Disamping itu, Asep mengatakan dari kemunculan macan tutul ini, diketahui macan tutul sebagai apex predator atau pemangsa puncak di hutan TNGGP akan tetap berada di zona inti, tidak akan turun ke zona pemanfaatan, mengingat habitat satwa-satwa mangsanya juga ada di zona inti. Ini menandakan bahwa gangguan keamanan satwa kawasan relatif tidak ada.

“Soalnya kalau terjadi perburuan liar, pasti macan tersebut keluar dari zona inti sehingga keseimbagannya terganggu. Untuk itu kita juga imbau masyarakat agar tidak melakukan perburuan lir agar akosistem mereka tetap terjaga dan alam pun ikut terjaga,” pungkas Asep. (Hrl)

Komentar

Jabar Lainnya