SUKABUMI, JPNews - Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar sukses mempertahankan adat istiadat dan tradisi leluhur.

Sejumlah cara ditempuh oleh Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi agar adat terus terjaga tapi dengan tetap memperhatikan perkembangan zaman.

Abah Ugi menuturkan, Kasepuhan Ciptagelar dimulai sejak tahun 1368 di Kampung Cipatat, Bogor dengan keturunan pertama. Kemudian berpindah ke Lebak Larang, hingga ke Sirnaresmi.

"Kami mewarisi dan melestarikan nilai-nilai budaya menanam padi karena itu suatu tradisi turun temurun maka kami menggunakan cara tradisional," kata Abah Ugi, Sabtu (14/1/2022).

Tradisi mulai menanam padi terus memanen padi, hingga ada Selamatan Setahun sekali yang menjadi batas tahun di Ciptagelar.

Pasalnya, warga Ciptagelar hanya menanam padi setahun sekali terus disimpan di Lumbung Padi dengan catatan tidak boleh diperjualbelikan.

Warga Ciptagelar itu tidak dibatasi dengan wilayah, namun tersebar di 568 kampung di Sukabumi, Bogor dan wilayah Banten. "Jika di total warga Kasepuhan Ciptagelar mencapai 50.000 jiwa," kata Abah Ugi.

Terkait soal arus perkembangan teknologi, Kasepuhan Ciptagelar miliki kebijakan sendiri. Menurut Abah Ugi, pihak memilah yang layak dan berguna untuk warga kampung.

"Untuk kepada anak-anak, kita sebagai orang tua itu harus bisa menjelaskan sisi baik dan buruk, setelah itu dikembalikan kepada anak itu untuk memilih," kata Abah Ugi.

Abah Ugi mengatakan, ada sejumlah teknologi modern memang sama sekali tidak boleh digunakan oleh warga kampung. Hal ini pula dijelaskan kepada anak-anak kampung Kasepuhan Ciptagelar juga miliki beberapa undang-undang yaitu Undang-undang Pemerintah, UU Agama, dan UU Adat. Beleid ini secara turun temurun dijalankan oleh warga kampung termasuk menjaga kelestarian alam karena hidup berdampingan dengan alam.

"Jika warga merusak alam maka kita (di kampung) terkena dampaknya," kata Abah Ugi.

Olehnya, jika UU milik Pemerintah hanya diberi hukuman atau sanksi, kalau di UU Adat, maka pelaku bakal merasakan sendiri imbasnya.

"Jika melanggar satu aturan adat maka dikembalikan pada diri kita masing-masing," kata Abah Ugi. (hrl)

Komentar

Jabar Lainnya