TOP 0 Edukasi

Suasana pembelajaran saat Sekolah Warga di Baleriung Mandalawangi, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.

SUKABUMI, JPNews - Seusai jam sekolah menjelang sore, sekira pukul 15.00 WIB sampai menjelang magrib, ibu-ibu berjalan kaki menuntun anaknya yang sudah berpakaian rapi dan wangi ke sebuah tempat bernama Baleriung Mandalawangi. Para ibu dengan semringah mengantar anak untuk belajar. Semuanya anak usia PAUD dan SD. Yang unik adalah, bukan sekadar mengantar anak belajar, namun para ibu secara senang hati juga ikut belajar. Kegiatan itu diberi nama “Sekolah Warga”.

Baleriung Mandalawangi lokasinya di Kampung Sukamaja, Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Untuk mengakses tempat itu dari Jalan Raya Ujunggenteng-Ciracap harus masuk jalan setapak yang hanya cukup untuk satu mobil dengan medan tanah berbatu dan sebagian aspal berlubang yang sudah terkelupas. Atau cukup bertanya pada warga lokal maka akan diarahkan langsung ke Baleriung Mandalawangi.

Di lokasi tersebut berdiri kokoh sebuah bangunan panggung dari bambu dengan rentetan buku-buku terpajang di etalase. Di beberapa sudut juga terpasang sebuah papan hitam yang sudah dicorat-coret kapur warna-warni. Saat sore, setiap Senin sampai Kamis diadakan Sekolah Warga. Beberapa pengajarnya adalah para pemuda-pemuda lokal dan mahasiswa yang secara sukarela meluangkan waktu untuk mengajar tanpa dibayar sepeserpun. Para pengajarnya sendiri berada di bawah bimbingan Pimpinan Yayasan Mandalawangi, Aa Soleh, penggagas Sekolah Warga.

“Sekolah Warga sudah jalan dua tahun, sejak ada Covid-19. Sebetulnya awal mula digagas Sekolah Warga ini berangkat dari keprihatinan. Banyak ibu-ibu yang mengeluh dengan pembelajaran jarak jauh atau metode daring, tidak ada aktivitas langsung. Saya kemudian ngobrol dengan ibu-ibu, dengan beberapa orang, akhirnya tercetus pembelajaran di Baleriung Mandalawangi secara tatap muka. Waktu itu karena sedang pandemi, jadi pakai protokol kesehatan,” kata Aa Soleh.

Ia menjelaskan, metode pembelajaran yang dilakukan seperti pembelajaran biasa. Belajar baca, tulis, berhitung, hingga belajar pendidikan agama islam seperti ketauhidan. Namun dalam kesempatan yang sama ibu-ibu juga turut menyimak. Tujuannya agar ibu-ibu paham dan saat pulang ke rumah bisa mengajarkan materi yang sama kepada anak-anaknya. Menurut Aa Soleh metodologi tersebut sangat efektif diterapkan. Kini, meski sekolah kembali melakukan tatap muka terbatas namun para ibu dan anak-anaknya tetap menjalankan Sekolah Warga di sore hari.

“Alhamdulillah sampai saat ini berjalan lancar dan anak-anak tidak bosan belajar, tak terkecuali ibu-ibunya. Dan Sekolah Warga ini tidak dipungut bayaran. Gratis. Para pengajarnya kebanyakan anak-anak muda sukarelawan. Ada juga yang mahasiswa asal sini yang menyempatkan waktu di sela perkuliahan dan mau transfer ilmu. Harapan saya sederhana, semoga Sekolah Warga ini tetap bertahan dan bisa mencetak anak-anak didik penerus bangsa,” pungkas Aa Soleh.(hrl)

Komentar

Edukasi Lainnya