TOP 0 Ragam



SUKABUMI, JPNews - Pada dasarnya manusia itu merupakan suatu individu yang tidak bisa hidup sendiri dan tidak bisa hidup tanpa bersosialisasi dengan invidu lainnya. Melainkan individu yang saling berhubungan dengan individu lainnya. 

Dalam hubungannya dengan invidu lain tentu saja tidak semudah yang dibayangkan, karena banyaknya individu yang memiliki karakter berbeda-beda, sehingga seringkali antara suatu individu dengan individu lainnya berdebat karena berbeda pendapat atau pandangan mengenai perubahan yang terjadi. 

Dengan demikian, suatu individu kerap kali membentuk kelompok-kelompok yang memiliki kesamaan pendapat dan pandangan mengenai perubahan yang terjadi. Untuk dapat membuat kelompok tersebut, tentu saja memiliki persyaratan tertentu yang menjadi kesepakatan bersama. Perubahan itu merupakan sesuatu yang tidak mudah karena merupakan sesuatu yang mutlak terjadi dimana saja dan kapan saja.

Ada banyak tokoh sosiolog yang mendefinisikan perubahan sosial. Diantaranya, menurut Prof. Dr. Kamanto, perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. 

Perubahan sosial meliputi perubahan dalam perbedaan usia, tingkat kelahiran, dan penurunan rasa kekeluargaan antar anggota masyarakat sebagai akibat dari terjadinya arus urbanisasi dan modernisasi. Menurut Hawley, perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan (Hawley, 1978:787). 

Menurut Ritzer, perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antarindividu, kelompok, organisasi, kuktur dan masyarakat pada waktu tertentu (Ritzer,et.al,1987:560).   

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan budaya yang meliputi perubahan dalam perbedaan usia, tingkat kelahiran, dan penurunan rasa kekeluargaan antar anggota masyarakat sebagai akibat dari urbanisasi dan modernisasi. 

Perubahan sosial juga mengacu pada perubahan hubungan antarindividu, kelompok, atau organisasi. Dan perubahan sosial ini merupakan perubahan yang tidak terulang. 

Dalam perubahan sosial terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang perubahan sosial ini. Salah satunya yaitu teori evolusionisme klasik. 

Teori ini menyebutkan bahwa perubahan sosial memiliki arah yang tatap dan dialami oleh setiap masyarakat. Perubahan evolusi ini terjadi secara bertahap mulai dari awal hingga perubahan terakhir. 

Teori ini berlandaskan pada teori Charles Darwin yang kemudian dipengaruhi oleh Herbert Spencer. 

Teori Evolusi merupakan teori yang paling awal dalam sosiologi yang di dasarkan pada karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. 

Herbert Spencer merupakan seorang evolusionis antropologi yang berasal dari kalangan ilmu-ilmu alamiah. Ia merupakan seorang Inggris yang menganut tradisi Prancis. Spencer juga merupakan salah satu tokoh yang tidak sependapat dengan teori evoluis Darwin. 

Jika Darwin berpendapat bahwa seleksi alam sebagai modus mekanisme utama timbulnya spesies-spesies baru. Sedangkan Spencer menitikberatkan adanya dinamika internal yang mendorong populasi menjadi semakin kompleks. 

Menurutnya, evolusi dalam prinsip yang pertama ialah perubahan dari ketidakselarasan yang sama menuju ke sebuah keanekaragaman yang masuk ala, diikuti dengan menghilangnya sebuah pergerakan dan penggabungan masalah. 

Sederhananya, sebuah perubahan berasal dari segala sesuatu yang serba sama menjadi sesuatu yang lebih kompleks yang berturut-turut mengalami perbedaan. Ia memandang transformasi masyarakat sebagai titik fokus bagi penelitian. Singkatnya, teori ini menyebutkan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan masyarakat dari homogenitas ke keterogenitas.

Teori Spencer ini disebut teori evolusi universal. Karena ia melihat perkembangan masayarakat dan kebudayaan dari tiap bangsa di dunia itu telah atau akan melalui tingakat-tingkat evolusi yang sama.

Sebagai contoh pola kehidupan agraris di indonesia sejak zaman dahulu secara perlahan dan pasti mulai berubah menuju kearah pola kehidupan yang bukan agraris lagi. 

Misalnya, petani-petani sekarang kebanyakan sudah berusia lanjut sedangkan anak-anak mereka kebanyakan bersekolah di tingkat perguruan tinggi atau minimal berpendidikan lebih tinggi daripada orang tuanya sehingga mereka bekerja berdasarkan latar belakang pendidikan mereka bukan bekerja sebagai petani sebagaimana orang tuanya bekerja. 

Faktor lainnya, adalah mulai berubahnya lahan pertanian menjadi lahan-lahan industri. 

Salah satu pertimbangan mengapa membangun industri di pedesaan adalah karena murahnya harga tanah dan rendahnya UMR di daerah tersebut. Sehingga menjamurlah pabrik-pabrik/industri di bekas lahan pertanian tersebut. 

Hal ini, menyebabkan perubahan pola kerja dari sektor pertanian menjadi sektor industri. Meskipun demikian, sektor pertanian belum sepenuhnya hilang. 

Hal ini mungkin disebabkan tradisi atau kebiasaan daerah-daerah tertentu yang memang pertanian merupakan lahan hidup mereka. 

Dengan demikian, walaupun sektor pertanian masih ada tetapi yang menggarap sektor tersebut adalah para orang tua usia lanjut yang belum tersentuh atau mengalami bangku pendidikan dan atau tidak memiliki skill sektor industri sehingga memilih menjadi petani. 

Hal seperti ini merupakan fenomena evolusi dari kehidupan bertani secara perlahan berubah menjadi sektor industri atau pekerja kantoran. Karena dua hal tadi, yakni faktor pendidikan dan faktor industrialisasi. 

Penulis: Rifda Adibatulah Fadhilah
Mahasiswa Semester 4 Jurusan Sosiologi  
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Komentar

Ragam Lainnya