TOP 0 News Indepth



SUKABUMI, JPNews - Seni Budaya Sunda Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya odong-odong dan Sisingan Reog) hampir tersisihkan dengan perkembangan budaya jaman digital saat ini Tahun 2021.

Akan tetapi di Kampung Cilanglala, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, satu keluarga besar Paguyuban Gelar Pusaka (pencak silat) dan Sanggar Panca Wargi Saputra (Sisingaan) masih bisa menjaga dan mempertahankan seni budaya warisan leluhur, meski saat ini tidak seantusias tahun 1960-2009.

"Keluarga besar kami dari dulu secara turun temurun sudah memiliki atau diwarisi seni budaya sunda bela diri Pencak Silat dan seni budaya Sisingan Reog. Pada tahun 1960 kakek buyut kami menamakan wadah untuk pencak silat itu Paguyuban Gelar Pusaka dan Tahun 2009 nama Sanggar Panca Wargi Saputra untuk tim Sisingan Reog lahir di Kampung Cilanglala ini. Alhamdulillah sampai saat ini, manis terjaga kelestariannya," kata Bah Udin Haris (80) pendiri Paguyuban Gelar Pusaka didampingi Ami Kakay (41) anaknya, saat disambangi di rumahnya Kampung Cilanglala RT 08/04, Jum'at (21/5).

Bah Udin yang mengaku sempat mengabdi selama 35 tahun sampai tahun 1995 sebagai Bantuan Tempur (Banpur) di Kodim 0607 Sukabumi, memaparkan pada jaman dulu leluhur keluarga besarnya sudah memiliki kecintaan terhadap perguruan atau paguyuban seni budaya bela diri Pencak Silat dan Sisingaan atau dikenal orang terdahulu Reog Sisingaan.

"Abah sempat mengabdikan diri secara sukarela di Kodim 0607 (Banpur) sampai 1995, disamping itu kakek buyut mewariskan seni budaya pencak silat dan reog sisingaan, hingga sekarang anak cucu abah yang meneruskannya," kata Abah Udin sesambil membakar rokok bako tampang yang dibungkus dengan daun aren kering (dunkaung bahasa sunda).

Ditempat yang sama Ami Kakay menambahkan, Kampung Cilanglala dulunya adalah pusat berkumpulnya para jawara-jawara pencak silat yang ada di Jawa Barat. Dimana para jawara datang untuk dijajal kemampuan pencak silat yang dikuasainya, sampai kepada Reog Sisingaan kerap ditampilkan dalam setiap acara-acara pesta rakyat atau peringatan agama Islam dan perayaan hajatan, pemerintah, peringatan hari besar nasional dan lainya.

"Alhamdulillah, keluarga besar kami masih menjaga warisan leluhur Paguyuban Gelar Pusaka dan Sanggar Panca Wargi Saputra (Sisingaan Reog) lengkap dengan peralatannya, mulai dari perlengkapan seragam, media tandu sebagai sarana kreasi seni Sisingaan dan alat musik ciri seni budaya sunda (gendang dan trompet)," papar Ami Kakay yang juga aktif sebagai Anggota Muda Laskar DPC Gerakan Ormas Islam Bersatu (GOIB) Kecamatan Cireunghas.

Meski sempat mengalami pakum dan jarang tampil dalam pagelaran kesenian budaya yang dimiliki keluarga besar Bah Udin Haris, Ami Kakay bersama sanak saudara masih menyimpan dan sesekali menampilkan seni budaya Pencak Silat dan Sisingaan dalam acara-acara keluarga di Kampung Cilanglala.

"Sekarang hanya bisa tampil mengisi acara acara keluarga di sini saja, tapi sejak beberapa bulan kami berkeinginan untuk kembali membangkitkan seni budaya yang diwariskan kakek buyut kami. Minta doanya saja dari semua, agar seni budaya ini bisa kembali naik panggung di cinta sebagai seni budaya yang harus dipertahankan," tandas Ami Kakay didampingi Ami Asep Anwar (Apek) Wakil Ketua DPC GOIB Cireunghas dan Ahmad Hilal (Ami Jhos) Komando Inti DPP GOIB Sukabumi Raya.

Untuk diketahui, Sejarah Sunting Seni Budaya Pencak Silat dan Sisingaan di Jawa Barat :

Sisingaan diciptakan sekitar tahun 1975 oleh para seniman sunda, karena mengingat datangnya kesenian Reog Ponorogo ke Jawa Barat, hal tersebut yang di bawa oleh kaum urban dari Ponorogo.

Setelah para seniman sunda berdiskusi dengan seniman reog yang sangat berbeda dengan Reog Dog-Dog Sunda, bahwa reog dari Jawa Timur lebih menarik perhatian dan memiliki nilai filosofi dan catatan sejarah melawan kolonial Belanda, maka diciptakanlah sebuah kesenian budaya yang mampu menunjukan identitas khas Jawa Barat dari gagasan para seniman terdahulu.

Sisingaan diilhami dari cerita serial

Sisingaan diilhami dari cerita serial Reog di Jawa Timur, yang menceritakan suka cita perjalanan para pengawal raja Singa Barong dari kerajaan Lodaya saat menuju kerajaan Daha.

Meskipun sang raja terkenal bengis dan angkuh, tetapi para pengawal selalu setia memikul tandu yang ditiduri oleh Raja Singa Barong.

Selain itu, seni budaya bela diri pencak silat dan Sisingaan Reog memiliki lambang yang mengandung pilosifi atau arti satu perlawanan rakyat Jawa bari saat itu, terhadap kesewenangan penjajah Belanda yang di gambarkan sebagai sosok singa pada lambang VOC.

Hal ini terus diingatkan dengan bertujuan sebagai edukasi pembelajaran sejarah tempo doeloe yang dimasukkan dalam catatan mata pelajaran bagi para pelajar ditingkat sekolah dasar hingga sekolah tingkat atas.(rudi)

Komentar

News Indepth Lainnya