SUKABUMI, JPNews - Mendengar kata Penjara ataupun Lembaga Permasyarakatan (Lapas), mungkin membuat orang membayangkan hal yang menakutkan.

Mungkin dalam pikirian banyak orang, saat mendengar kata-kata itu, terbesit dalam pikirannya, dari mulai tempat kumuh, tidur berdesakan, hingga menu makanan yang tidak layak.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB Nyomplong Sukabumi, Christo Victor Nixon Toar mengatakan, perihal menu makan yang ada di dalam Lapas Nyomplong telah diatur standarnya oleh Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No 40 Tahun 2017 terkait mendapatkan makanan yang sehat dan bernutrisi merupakan hak semua orang, tak terkecuali Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

"Terkait menu makanan, kami sesuai aturan yang dikeluarkan pemerintah terkait itu. Seluruh WBP Lapas Nyomplong, mendapatkan jatah makan sebanyak 3 kali sehari, dengan menu yang berbeda setiap hari dan setiap waktunya, dan pastinya juga bergizi," kata Christo saat ditemui diruang kerjanya, Sabtu (2/4).

Ia menuturkan, kami bukan hanya memperhatikan berapa kalinya WBP mendapatkan jatah makan setiap hari, namun juga kami memperhatikan terkait asupan makanan yang diberikan terhadap WBP.

"Sampai menu kami perhatikan. kami ingin memastikan, WBP mendapatkan asupan gizi ataupun protein yang layak, meskipun mereka saat ini sedang menjalankan masa hukuman, akibat atas kesalahan perbuatan mereka terdahulu," jelasnya.

Saat disinggung terkait menu apa saja yang diberikan kepada WBP pada setiap waktu makan, sambil membawakan contoh menu makan WBP, ia menunjukkan contoh menu makan WBP yang ada di dalam Lapas Nyomplong pada hari itu.

"Ini adalah Contoh menu makan siang dan sarpan pagi tadi, bahkan, kami juga disini memberikan menu daging setiap 10 hari sekali," bebernya.

Dari menu yang diperlihatkan tersebut, pada menu sarapan pagi, nampak jenis ikan goreng sebagai lauk utama, beserta sayur dan tahu sebagai pendamping, dan juga 1 buah pisang sebagai pencuci mulutnya. Lalu pada menu makan siang, terlihat ada potongan gulai ayam beserta sayur, dan juga 1 buah ubi rebus sebagai pendampingnya.

"Bahkan, dulu pernah, saat kami mendapatkan buah yang kami nilai kurang layak, hingga saya langsung bersurat kepada pihak cathering untuk memperbaiki kwalitas terhadap menu yang diberikan ke lapas," ungkap Christo.(Wan)

Komentar

Jabar Lainnya