Menelaah Arah Kedewasaan Supporter Antara Loyalitas dan Anarkisme

TOP 0 Netizen



JPNews - Akhir pekan ini menjadi akhir pekan yang kurang baik bagi persepak bolaan Indonesia. Sabtu kemarin, Micko Pratama seorang Bonek berusia 17 tahun harus meregang nyawa usai mendukung Persebaya yang tandang ke Solo. Jumat (13/4) lalu Persebaya bertanding melawan PS Tira dengan hasil akhir kemenangan bagi pasukan Green Force.

Namun sayang, kemenangan itu tercoreng akibat peristiwa meninggalnya Micko. Hingga saat ini belum ada rilis resmi dari pihak berwajib mengenai kronologi kejadian. Namun salah satu saksi yang berada bersama korban saat kejadian memaparkan bahwa kendaraan bak terbuka yang mereka tumpangi dilempari batu oleh warga.

Saat pelemparan terjadi, para Bonek dalam kendaraan bisa mencari pegangan agar tidak terpelanting. Sayang korban yang tidak sempat mendapatkan pegangan justru jatuh ke luar kendaraan dan dikeroyok oleh massa pelempar batu. Korban dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun sayang tidak terselamatkan.

Masih menurut saksi, kejadian itu dipicu karena adanya penjarahan oknum Bonek mania di beberapa warung di solo. Penjarahan itu akhirnya berbalas dengan perilaku anarkis dari warga. Kurang lebih seperti itu berita yang dilansir oleh laman berita online Tribunnews.com. Tak hanya itu, malam ini, supporter Indonesia kembali menunjukan ulahnya.

Dalam derby biru Arema FC melawan Persib Bandung, Aremania berhasil menghentikan jalannya pertandingan dari waktu normal. Pada menit 90+3, beberapa Aremania turun dari tribun dan mencoba merangsek ke dalam lapangan. Namun upaya tersebut berhasil digagalkan oleh petugas keamanan.

Melihat kondisi seperti itu, pemain dari dua klub pun menepi menuju bench. Ketika perangkat pertandingan melakukan diskusi, para Aremania semakin tidak terkendali dan masuk ke dalam lapangan dan berlari menuju bench pemain. Para pemain dan official kedua klub pun langsung dievakuasi.

Lebih parah lagi, Pelatih Kepala Persib Bandung, Mario Gomez mendapatkan luka di dahinya akibat teror supporter. Tak hanya itu, di menit akhir pertandingan, para Aremania terus melakukan teror dari tribun kepada para pemain Persib. Botol minuman, sandal hingga sepatu melayang masuk ke dalam arena pertandingan.

Ini sungguh sangat memalukan bagi persepak bolaan tanah air. Jika pelemparan ke dalam lapangan bisa dianggap biasa oleh supporter, meskipun sebenarnya adalah pelanggaran, maka masuknya puluhan atau ratusan supporter ke dalam lapangan bukanlah hal yang wajar. Kekecewaan atas tim yang tak kunjung menang, pasti menghampiri supporter mana pun.

Ketika dukungan tanpa pamrih diberikan sementara permainan tak jua menghasilkan kepuasan, maka stres psikologis lah yang akan dirasakan supporter. Hal-hal anarkis di luar batas pun menjadi hal yang dapat terjadi. Meskipun dalam pertandingan tadi, Arema tidaklah begitu buruk memberikan penampilan mereka.

Sebenarnya fenomena masuknya supporter ke dalam lapangan bukanlah hal yang jarang terjadi. Namun masuknya supporter hanya perorangan yang ingin memprotes permainan buruk tim yang dibelanya dengan menunjukan cara mencetak gol ke gawang lawan. Tidak hanya di tingkat nasional, bahkan sepak bola internasional pun pernah mengahapi hal serupa.

Namun itulah perbedaannya, tidak ditunjukan dengan merangseknya puluhan atau ratusan supporter ke dalam lapangan cenderung akan terjadi anarkisme. Anarkisme seperti yang dilakukan dan dialami oknum Bonek, dan yang dilakukan beberapa Aremania harus segera disudahi. Karena hal ini bukan hanya melanggar aturan persepak bolaan, tapi juga hanya akan memunculkan kekhawatiran.

Kekhawatiran yang datang dari orang tua ketika akan membiarkan anaknya menonton sepak bola di stadion. Kekhawatiran dari supporter yang ingin mendatangi stadion, kekhawatiran dari masyarakat sekitar stadion atau sepanjang jalan menuju stadion. Kekhawatiran demi kekhawatiran ini sejatinya hanya akan merugikan sepak bola Indonesia.

Imvestor yang mau membiayai klub sepak bola profesional kita akan ikut merasakan kekhawatiran itu. Karena jangankan berfikir untung, untuk membayar denda akibat anarkisme supporter saja sudah habis uang mereka. Kemudian sepak bola tidak lagi menjadi hiburan bagi semua kalangan, sepak bola hanya akan menjadi teror bagi para pecintanya.

Teror yang hanya tinggal menunggu waktu siapa akan menjadi korban, di mana lokasinya, dan tentunya dengan alasan yang sama, anarkisme supporter. Hal ini harus segera disudahi oleh masing-masing kelompok supporter ataupun individu supporter itu sendiri. Karena sejatinya sepak bola adalah olahraga yang menjunjung fair play, menerima kekalahan dan meredam jumawa kemenangan.

Kita pasti ingin seperti para supporter klub-klub di Liga Inggris yang menghabiskan akhir pekan mereka di dalam stadion. Menonton dari dekat pemain idola mereka, memeluknya ketika dia berhasil menciptakan gol, dan tentunya bisa makan popcorn sepanjang pertandingan. Ketika tim menang, semua bersorak senang, dan ketika tim kalah, supporter pun meninggalkan lapangan dengan tenang. Saya rasa semua kita inginkan itu, tapi hal tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya kedewasaan dari para supporter itu sendiri.

(Imam Maula Fikri)

Komentar

Netizen Lainnya