Menakar Kehebohan Jokowi ke Sukabumi

TOP 0 Netizen



JPNews - Akhir pekan lalu, orang nomor satu Indonesia mendatangi daerah kelahiran saya, Sukabumi. Dalam ingatan penulis, ini mungkin ketiga kalinya Jokowi menginjakan kaki di Sukabumi. Pertama kali saat dia berkampanye sebagai Capres di tahun 2014. Saat itu dia menginap di salah satu hotel di wilayah Cicurug. Lautan manusia pun memadati lokasi kegiatan kampanyenya, lokasi yang terkenal dengan kepadatan lalu lintasnya.

Selanjutnya, Jokowi mendatangi Sukabumi untuk beberapa agenda. Penulis tidak ingat pastinya, agenda yang dilakukan RI 1 saat itu antara ground breaking tol Bocimi, memantau jalur kereta Sukabumi-Bogor, atau bagi-bagi sertifikat tanah. Kemudian, RI 1 mendatangi wilayah Sukabumi pun bukan kali ini saja. Seingat saya SBY sebagai RI 1 di periode kedua pernah mendatangi Sukabumi untuk meresmikan jalur kereta Sukabumi-Cianjur, meskipun dalam kunjungannya hanya terkesan melintas saja.

Namun kunjungan eks walikota Solo ini cukup menguras perhatian banyak pihak. Terlebih, tahun ini merupakan tahun politik dengan dimulainya Pilkada serentak, termasuk Jawa Barat di dalamnya, serta Pilpres di tahun mendatang. Suasana ini otomatis memanaskan perdebatan warganet khususnya pendukung dan oposan sang RI 1. Salah satu yang penulis pantau adalah dalam grup Facebook masyarakat Sukabumi yang cukup banyak pengikutnya.

Dalam grup tersebut, ramai diperbincangkan banyak hal. Mulai dari persiapan kedatangan Jokowi, masyarakat yang menunggu di stasiun Cibadak, jalan Cibadak yang mendadak sepi dari kepadatan lalu lintas, hal ini jarang terjadi, Jokowi berkeliling mengendarai Choopernya, hingga isu 2019 ganti presiden atau Jokowi 2 periode.

Untuk isu yang terakhir, penulis agak geli membaca setiap postingan yang berkaitan dengan hal tersebut di grup itu. Seperti biasa, warganet yang selalu heboh soal pesta demokrasi, juga memanas di grup Facebook yang isinya warga Sukabumi itu. Saling hujat tak beralasan pun datang dari masing-masing akun baik itu pendukung #jokowi2periode ataupun #2019gantipresiden.

Padahal proses politik menuju kontestasi 2019 masih sangatlah panjang. Perdebatan-perdebatan yang muncul di dunia maya itu semakin membuat penulis yakin akan kebenaran ungkapan Rizal Ramli dalam salah satu acara tv nasional. Bahwa perdebatan kita pada belakangan ini, jauh dari kualitas intelektual. Dalam hal ini, khususnya bagi warganet Sukabumi yang heboh dengan datangnya RI 1 untuk kesekian kali.

Sayangnya, kekosongan intelektual itu juga terjadi di Kota kecil yang mungkin di daerahnya pun masih perlu banyak perbaikan mutu, baik itu infrastruktur untuk berfikir ataupun isi dari fikirannya itu sendiri. Menjadi hal lain yang ditunjukan, bahwa keramaian warganet ini adalah bentuk ketiadaan isu bermutu baik itu dari pemerintah ataupun oposisi.

Hal ini penulis baru baca belakangan dari salah satu tulisan di laman berita nasional. Maka sebaiknya, daripada meributkan hal yang tidak berdampak langsung pada masyarakat Sukabumi, lebih baik semua tingkatan masyarakat membuat peta masalah Sukabumi dan menyelesaikannya bersama.

Sepengetahuan penulis, ketika masih aktif menjadi juru warta di Sukabumi, masih terlalu banyak masalah sosial di lingkungan masyarakat yang saat itu tidak tersentuh dengan baik oleh stakeholder setempat. Pembangunan pusat ekonomi rakyat, tanah-tanah warga yang lepas pada investor luar, keruwetan birokrasi, masalah ketertiban di lingkungan masyarakat, hingga tarif tempat wisata yang sering melonjak sangat tinggi ketika musim libur.

Keberadaan beberapa NGO ataupun organisasi kemasyarakatan tidak lantas menyelesaikan semua masalah Sukabumi yang semakin komplek. Seharusnya para warganet Sukabumi, lebih fokus pada permasalahan-permasalahan tersebut, bukanalah meramaikan kontestasi yang mungkin masih bisa berubah hingga akhir pendaftaran calon.

Sebagai penutup dari penulis, meskipun geli dengan kelakuan warganet, paling tidak ada satu hal positif dari kericuhan warganet untuk sebagian kalangan. Beberapa partai mungkin akan memetakan kekuatan mereka untuk kontestasi Pilkada Jabar, dalam hebohnya kedatangan Jokowi ini. Mengingat hingga saat ini, kontestasi politik Jawa Barat masih terbilang adem ayem jika dibandingkan dengan Jakarta yang sama-sama menjadi cermin dari percaturan politik nasional.

(Imam Maula Fikri)


Topik : Jokowi Sukabumi

Komentar

Netizen Lainnya