TOP 0 Netizen



JAKARTA, JPNews - Pandemi covid-19 mulai melanda Indonesia sejak awal Maret 2020. Pemerintah terus berupaya melakukan antisipasi terhadap berbagai sektor yang terdampak.

Sektor ekonomi merupakan salah satu sektor yang tidak kalah penting dari sektor kesehatan. Saat ini, sektor ekonomi Indonesia mengalami dampak yang serius.
Laporan BPS di bulan Agustus ini mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Pertumbuhan ini menjadi yang terburuk sejak krisis 1998.

Menghadapi kondisi perekonomian tersebut, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto akan berfokus pada peningkatan ekspor hingga akhir 2020 mendatang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan bahwa komoditas ekspor Indonesia memiliki daya saing tinggi.

Pada bulan Juli 2020, BPS merilis neraca perdagangan luar negeri Indonesia yang mengalami surplus sebesar 3,26 miliar dolar AS. Nilai surplus ini didapat karena nilai ekspor yang lebih tinggi daripada nilai impor. Dimana nilai ekspor pada bulan Juli 2020 sebesar 13,73 miliar dolar AS sedangkan nilai impor sebesar 10,47 miliar dolar AS.

Ekspor Indonesia meliputi ekspor migas dan non migas. Ekspor non migas memiliki pengaruh yang besar karena menjadi penyumbang nilai ekspor terbesar bagi Indonesia. Termasuk di dalam ekspor non migas yaitu komoditas pertanian, industri pengolahan, dan pertambangan.

Dilansir dari data BPS, hal yang cukup menarik adalah ekspor pertanian. Di awal 2020 atau tepatnya bulan Januari, ekspor pertanian Indonesia sebesar 295,9 juta dolar AS. Nilai ekspor pertanian terus naik hingga di bulan Maret mencapai 315,1 juta dolar AS. Memasuki bulan April dan Mei nilai ekspor mengalami penurunan sebagai akibat dari diumumkannya kasus pertama covid-19 di Indonesia. Di bulan April nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 31,2 juta dolar AS. Selanjutnya di bulan Mei turun 48,4 juta dolar AS dibanding bulan April. Menariknya, setelah mengalami penurunan tersebut, nilai ekspor kembali merangkak naik hingga di bulan Agustus mencapai 341,4 juta dolar AS. Dengan rincian, di bulan Juni naik sebesar 44,7 juta dolar AS, bulan Juli naik sebesar 69,5 juta dolar AS, dan mengalami sedikit penurunan di bulan Agustus sebesar 8,3 juta dolar AS.

Kenaikan nilai ekspor pertanian setelah terjadinya penurunan pada bulan April dan Mei merupakan salah satu dampak nyata dari adanya kebijakan new-normal, dimana perekonomian dapat berangsur kembali seperti semula. New-normal merupakan skenario untuk mempercepat penanganan dampak dari covid-19 terutama dalam sektor kesehatan dan sosial ekonomi. Pelaku ekonomi dapat berangsur memulihkan kegiatan usahanya meskipun dari sisi penjualan tetap tidak setinggi seperti situasi normal.

Komoditas ekspor pertanian utama Indonesia meliputi kopi, buah-buahan, tanaman obat, rempah-rempah, dan sebagainya. Sejalan dengan rencana menteri perdagangan maupun menteri koordinator bidang perekonomian, komoditas tersebut dapat dijadikan sebagai unggulan dalam upaya pemulihan ekonomi Indonesia.

Melalui harapan-harapan tersebut, akan lebih baik ketika pemerintah menggandeng pengusaha di sektor pertanian maupun petani secara langsung dalam mewujudkannya. Bisa melalui pembekalan teknologi maupun menggalakkan promosi untuk menarik negara-negara lain dalam memilih komoditas pertanian Indonesia. Selain kedua hal tersebut, pengetatan kebersihan komoditas ekspor juga menjadi hal penting. Ditengah kondisi yang sangat rentan seperti saat ini, kebersihan dan higienitas menjadi hal yang utama.

Dengan dilaksanakannya upaya tersebut, diharapkan komoditas pertanian dapat menjadi andalan komoditas ekspor Indonesia, terutama perannya dalam membantu mendongkrak perekonomian nasional.

Penulis | Habni Hamara Azmatiy
Mahasiswa Tingkat 3 Semester 5
Politeknik Statistika STIS Jakarta

Komentar

Netizen Lainnya