TOP 0 Liifestyle

ist

Belakangan semua ambil bagian. Turut andil. Baik pemerintah, swasta, bahkan yang akrab disebut kuli tinta, wartawan.

Motivasinya satu. Mencegah dan menangani pandemi corona. Covid-19. Saya yakin motivasinya satu itu. Tak lain. 

Saya tak akan membahas semuanya. Satu saja. Wartawan. Lebih spesifik lagi. Hanya Lampung Barat. Daerah yang saya liput sejak 2011. Saat menjadi bagian dari Surat Kabar Harian lokal itu. Karena dua tahun sebelumnya, saya ditugasi meliput kabar di kabupaten tetangga, provinsi tetangga pula. Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan (Sumsel). Saat bekerja di surat kabar yang terbit per pekan itu.

Sejak sembilan tahun silam. Tahun ini profesi satu ini cukup riuh di dunia maya. Facebook utamanya. Meski tak seheboh bahasan bantuan langsung tunai (BLT) dana desa itu. Di tengah dampak ganasnya corona.

Salah satunya, gaduh-gaduh karena anggaran publikasi di tingkat desa. Bersumber dana desa. DD. Begitu yang karib di telinga.

Di bagian itu. Di dana publikasi DD itu. Profesi wartawan tampak digoreng. Celetuk kata yang kurang sedap kerap terbaca. Di laman komentar.

Tapi para pemburu kabar itu diam. Tak melawan. Biar publik yang menilai. Sesekali hanya menerbitkan klarifikasi dari beberapa sumber yang memastikan kerjasama publikasi itu legal. 

Apa lagi, Momerandum of Understanding (MoU) ditandatangani dua belah pihak. Perwakilan media pemegang surat kuasa mengurus administrasi di daerah dengan masing-masing pekon. Bukan di satu titik.

Ini bukan hal baru. Sudah ada sebelum saya menggeluti profesi ini. 

"Sejak dahulu kala." Begitu seloroh seorang teman seprofesi yang saya mintai masukan malam ini. Rabu.

Itu sebagian kecil gambaran yang dihadapi sebagian wartawan. Di Lambar. Selain dihantui rasa was-was saat melakukan peliputan. Di tengah pandemi itu. 

Mereka terus berupaya mengabarkan kepada publik. Yang disarankan beraktivitas di rumah.

Namun, tak banyak publik tahu. Wartawan juga tengah turut berjuang memutus rantai penyebaran virus yang kali pertama muncul di Wuhan, Hubei, China itu. 
Tak sekadar memberikan kabar terbaru. Kerjasama pun juga turut terpangkas. Untuk menangani wabah itu.

Di Sekretariat DPR Lambar, anggaran berita berbayar yang juga disebut advertorial untuk surat kabar harian di pangkas sekali terbit. 

Belum lagi langganan koran di sekretariat pemkab. Semula bagian umum menerima 25 eks perhari. Sejak Maret hanya 17 eksemplar saja. Lagi, anggaran dipangkas gegara corona. Katanya.


Salam... (M Sentosa)

Komentar

Liifestyle Lainnya